Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Sepur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepur. Tampilkan semua postingan

16 Desember 2009

Tour de Ambarawa part 4

Sekitar 2.5 jam perjalanan dengan bus dari Ambarawa menuju Yogyakarta. Di jogja saya disambut dengan cuaca yang mendung. Cukup melegakan karena selama perjalanan dengan bus hawanya sangat panas. Jadi selama perjalanan itu saya "bertekad" akan langsung mandi sesampainya di stasiun Yogya. Dan, memang benar, ketika di Yogya, setelah membeli tiket Sancaka, tanpa istirahat, saya langsung memutuskan untuk mandi di kamar mandi umum.

Yogjaaaa....

Selesai mandi, waktu masih lama menuju jam keberangkatan, hmm, enaknya ngapain ya. Akhirnya saya putuskan untuk jalan-jalan sebentar melihat kondisi terkini Malioboro :D Ternyata ga berbeda semenjak terakhir saya ke situ (ketika SMP) Mau beli oleh-oleh buat orang rumah, koq yang dijual itu-itu aja. Paling-paling batik. Ya udah balik ke stasiun lagi aja.

Saat masuk stasiun, ada lokomotif lewat. Foto-foto dulu deh.

CC20140

Ndilalah, ketika sudah sampai di stasiun, turun hujan yang sangat deras. Wah bersyukur banget bisa kembali dengan selamat :D Setelah sholat, datang rangkaian "Spongebob" alias Prameks dari arah Solo menuju Kutoarjo. Tapi koq prameks ini lama ya ga jalan-jalan. Kemudian terdengar pengumuman dari PPKA lewat pengeras suara yang menyebutkan bawah ada gangguan di jalur YK - KTA. Oohhh, pantes koq sang spongebob ga jalan-jalan. Katanya sih ada pohon tumbang dan mengenai kabel telpon di pinggir rel.

Spongebob diguyur hujan

Akhirnya waktu untuk pulang telah tiba. Sancaka pergi meninggalkan Tugu diiringi hujan deras. Rasanya sendu. Suara hujan, bersanding dengan suara roda dan rel yang beradu. Hujan terus mengiringi sampai Madiun. Beberapa kali kereta bersilang. Sampai akhirnya selepas Kertosono, kereta berjalan langsung tanpa hambatan sampai Surabaya. Rasanya memang damai perjalanan malam ini. Tak terasa telah sampai surabaya pada pukul 22.30
TAMAT


Di madiun...


Silang di Saradan


Silang di Nganjuk


Meninggalkan keheningan malam


Sampai di Kertosono


Satu kereta hanya 6 orang...

04 Desember 2009

Tour de Ambarawa part 3


Di stasiun Bedono, lokomotif uap melakukan proses isi air. Kira-kira waktu prosesnya 15-20 menit. Menunggu waktu tersebut para edan sepur berpuas mengabadikan momen-momen pengisian air. Tapi bagi non edan sepur, menunggu waktu tersebut rasanya membosankan. Karena di Bedono tidak ada apa-apa. Hanya sebuah bangunan stasiun yang telah tutup. Paling-paling ada penjual pecel yang menjadi hiburan bagi perut :)


Lokomotif mengisi air

Setelah mengisi air, maka lokomotif kemali menggandeng rangkaian dan melanjutkan tour, yaitu kembali ke Stasiun Ambarawa (Willem I). Saat perjalanan pulang rasanya mengantuk sekali, karena kebetulan sejak dari Surabaya kurang tidur. Beberapa railfans memang terlihat tertidur (malah ada yang tidur pas perjalanan berangkat tadi).

Kelokan menurun di perjalanan pulang


Jalan raya Ambarawa - Magelang

Perjalanan kembali rasanya lebih cepat, karena kondisi jalur yang menurun, selain itu tidak ada proses ganti posisi di stasiun Jambu. Akhirnya setelah 30-40 menit perjalanan, kita telah kembali di stasiun Willem I. Berakhirlah perjalanan kita dengan kereta uap. Lokomotif dan kereta di istirahatkan di Dipo Loko Uap untuk nanti berangkat lagi di siang hari.

Sebelum pulang, sebaiknya kita nikmati juga pajangan berbagai tipe lokomotif uap yang ada di bagian kanan setasiun. Selain itu juga ada beberapa foto-foto lawas. (Sayang saya gak foto-foto karena dah capek). Untuk yang masih ingin jalan-jalan lagi, bisa mencoba lori wisata seharga 10.000 yang melintasi bukit cinta.

Karena saya capek, akhirnya saya putuskan untuk kembali lebih awal bersama rekan RF. Kami memutuskan pulang via Yogyakarta.
Bersambung...


Di bus Ambarawa - Yogya

30 November 2009

Tour de Ambarawa part 2

Perjalanan dengan kereta uap dimulai dari stasiun Ambarawa (Willem I). Loko uap dengan 2 kereta penumpang berjalan pelan diantara perkampungan penduduk. Jalur Willem I sampai Stasiun Jambu merupakan jalur datar yang melalui perkampungan dan persawahan.

Diantara perkampungan penduduk

Sekitar 15-20 menit kemudian kita sampai di stasiun Jambu. Tapi jangan berpikir akan melihat bangunan stasiun seperti biasanya. Stasiun ini hanya berupa tanah lapang dan tiga jalur rel. Malah rel-rel sepur belok tidak terlihat karena tingginya rumput. Di stasiun ini, lokomotif yang tadinya di depan akan pindah ke belakang untuk mendorong, karena jalur di depan (menuju stasiun Bedono) kondisinya menanjak.

Tiba di stasiun Jambu


Datang dari belakang untuk mendorong

Selepas stasiun jambu, pemandangan mulai berganti menjadi pemandangan semi hutan. Rumah-rumah penduduk mulai jarang dan jalan mulai menanjak, ditandai dengan adanya rel gerigi.

Pemandangan sawah hijau dan gunung


Rel bergerigi

Dengan jalur yang berkelok, dijamin para edan sepur akan menikmati perjalanan menuju stasiun Bedono. Nanti jalur KA akan bersinggungan dengan jalan raya Ambarawa-Magelang.
Akhirnya rangkaian kereta sampai di stasiun Bedono. Bersambung....

Stasiun Bedono

19 November 2009

Tour de Ambarawa part 1

Tanggal 22 oktober 2009, arek2 sepur ngadain acara tour lokomotiv uap ambarawa. Wah ini kesempatan emas untuk menikmati lokomotiv uap yang masih sehat. Dah lama rasanya ingin mencoba wisata ini, tapi belum pernah sekalipun rancana yang terpikirkan.

Rekan-rekan dari Surabaya sebagian (termasuk saya) menggunakan KA Gumarang menuju Semarang. Sebagian lagi ada yang menggunakan angkutan bus. KA Gumarang berangkat pukul 5:30 dari St. Ps Turi. Sampai di Semarang pukul 23:00. Perjalanan cukup lancar, kondisi tidak terlalu ramai namun tidak juga kosong. Mungkin karena hari Jum'at, banyak orang-orang yang PJKA (Pulang Jumat, kembali Ahad).

Kami tiba di Semarang Tawang sekitar pukul 23.00 malam. Cuaca cukup cerah, namun terlihat sedikit awan mendung. Kita berharap besok cukup cerah sehingga perjalanan KA Uap tidak terganggun hujan. Sejenak kita istirahat di warung sekitar stasiun sambil menikmati gorengan.

Rasanya malam itu akan hujan karena udara terasa cukup pengap. Saya memutuskan untuk mandi di kamar mandi umum stasiun. Wah segar deh rasanya setelah perjalanan lima jam akhirnya terbasuh dinginnya air.

Kondisi stasiun Tawang tampak sepi, ya tentu lah kan tengah malam, tampak di ujung barat lokomotif BB200 dalam kondisi idle. Saya bertanya pada teman, "kenapa koq gak dipakai tapi tetap mesin menyala". Jawab teman saya, "Daripada nanti nyalain lagi susah banget mending ngorbanin solar beberapa liter". Ohhh gitu toh. Ya memang lokomotif ini termasuk lokomotif yang uzur. Saya diajak bro Dimaz untuk melihat loko itu dari dekat.

BB200 diam diantara kegelapan malam

Sambil menunggu pagi, kawan-kawan ngobrol ngalur ngidul. Ada juga yang melepas lelah dengan tidur di emperan stasiun. Selepas subuh, aktifitas stasiun mulai ramai. Beberapa rangkaian kereta api datang dari arah Jakarta. BB200 pun memulai aktifitasnya sebagai lokomotif langsir. Tapi rasa ngantuk mulai mendera. Beberapa kawan tampak terlelap di bangku-bangku kosong stasiun.

Siluet menara stasiun tawang di pagi hari


KA dari jakarta


BB200 berdinas sebagai lokomotif langsir

Selepas pukul 7 pagi, seluruh railfans telah berkumpul. Saatnya berangkat menuju Ambarawa. Dari depan stasiun tawang kita menunpang mini bus. Dengan biaya Rp 7000 kita akan sampai di museum Kereta Api sekitar satu jam.

Di museum, kami disambut oleh lokomotif uap B2503 dalam posisi telah menggandeng dua kereta kayu. Kagum rasana melihat sebuah lokomotif uap yang masih beroperasi. Seumur hidup bari kali ini melihat lokomotif uap untuk kereta penumpang. (Sebelumnya dah pernah liat/malah naik lokomotif uap untuk lori PG)

Bersambung...


B2503 menunggu penumpang

25 Juli 2009

BMA=Bumiayu

Minggu kemarin para edan sepur Surabaya mengadakan acara gathering di Stasiun Bumiayu (BMA). Bumiayu merupakan bagian dari kota Brebes, Jateng. Stasiun Bumiayu merupakan stasiun yang cukup sibuk. Sering menjadi tempat persilangan beberapa rangkaian keretaapi. Kadang juga menjadi tempat melepas lok DT yang mengantar rangkaian melalui jalur menanjak.

CC 201 45 selepas mengantar rangkaian ketel kembali ke Purwokerto

Bagi para railfans yang suka fotografi, objek jembatan Sokolimolas adalah magnet yang menarik. Dengan tinggi kira-kira 15m dan panjang 100m, jembatan ini terlihat indah dengan kereta api lewat di atasnya.


Rombongan Surabaya berangkat 18 Juli 2009 pukul 2 siang. Saya sempat khawatir aja ada kesulitan di perjalanan karena kebetulan sehari sebelumnya 17 Juli, terjadi peledakan bom di Jakarta. Ternyata perjalanan lancar-lancar saja. Tidak ada pemeriksaan ketat di stasiun seperti yang saya pikirkan. Pukul 1 pagi sampai di Bumiayu. Di situ telah menunggu rekan dari daop lain. Setelah berbincang beberapa menit kami pun beristirahat untuk mempersiapkan kegiatan besok pagi.


Pagi telah datang, wah ternyata hawa pagi di tempat ini sangat dingin. Pemandangan indah pegunungan Slamet terlihat. Subhanallah! Beberapa warga sekitar terlihat berjalan-jalan di atas rel. Ternyata area ini juga merupakan tempat favorit untuk joging di Minggu pagi.



Beberapa rekan mengambil foto dari sisi bawah jembatan. Sebagian lagi dari posisi yang jauh sehingga dapat mengambil gambar jembatan secara penuh. Saya dan pak Tri sepakat untuk mencoba nyali melewati jembatan ini. Ternyata nyali saya belum cukup besar. Saya hanya berani 20 meter menyebrang. Kebetulan sekali ketika saya berada di safety zone ada rangkaian ketel melewati jembatan. Wah kesempatan merasakan sensasinya.


Sekitar satu jam di jembatan itu kita kembali lagi ke stasiun untuk mandi dan makan pagi. Selain itu ada acara penyerahan kenang-kenangan kepada kru stasiun Bumiayu berupa foto stasiun yang di cetak ukuran besar dan di bingkai. Setelah acara itu baru kita full team railfans kembali hunting di jembatan. Setelah puas hunting di jembatan, hunting dilanjutkan di stasiun sampai malam tiba.

Kami rombongan Surabaya kembali ke Surabaya via Yogyakarta dengan kereta Senja Solo. Saya kembali sendiri ke Surabaya naik KA Logawa, sedang yang lain menumpang Sancaka sore karena menyempatkan belanja di Yogya.


03 Januari 2009

Signal Sepur (Mekanik)

Semenjak gabung di milis tentang sepur, pengetahuan saya pada dunia per sepuran makin bertambah. Jika dulu saya hanya menduga-duga arti simbol-simbol dan tanda-tanda dalam perjalanan kereta api, maka sekarang saya sudah mengerti sebagian dari simbol atau tanda itu. Walaupun baru sebagian kecil saja yang saya tau.
Dalam dunia per-sepur-an, seorang masinis adalah orang yang bertugas menjalankan lokomotif, tetapi dia bukan orang yang menentukan arah dan perjalanan kereta api. Namanya aja masinis, atau engineer, atau juru mesin, jadi tugasnya menjalankan mesin, menentukan kecepatannya, atau memberhentikannya. Sedangkan orang yang bertugas mengatur perjalanannya disebut PPKA. Jadi mode transportasi ini memang mode transportasi yang rumit, saling berhubungan dengan semua aspek, tidak bisa berjalan secara pribadi, seperti halnya transportasi jenis Bus, apalagi angkot.
Kenapa seorang sopir Bus dapat dengan bebas memberhantikan Bus nya, atau membelokkan ke jalur lain, mendahului kendaraan lain, malah ngetem di pertigaan Kertosono dengan seenak udelnya sendiri, hal ini disebabkan Bus lebih mudah di kendalikan, lebih mudah berhenti, dan tentu dapat berbelok dimana saja, dan jika bus itu berhenti, bus yang lain bisa mendahuluinya. Tidak seperti kereta api, dimana proses pengereman dapat memakan jarak yang panjang, sehingga tidak bisa mengerem mendadak jika melihat ternyata jalan berbelok tajam, dan juga tidak dapat berbelok sesuka hati karena menhindari orang menyeberang jalan. Untuk itulah di sediakan rambu-rambu yang khusus pula.
Pandangan masinis atas jalur yang akan dilaluinya kadang kala tidak bebas. Tidak tau apakah didepan ada perlintasan, atau ada belokan, atau ada percabangan. Walaupun mungkin para masinis sudah hapal atas track.
Dari foto dibawa ini menunjukkan padangan masinis sangatlah tertutup terhadap apa yang ada di depannya. Signal tersebut adalah signal muka, yang artinya signal yang memberikan informasi akan signal lain setelah signal ini. Arti signal muka ini adalah signal di depan menunjukkan aspek aman (lampu Ijo) untuk signal selanjutnya, jadi masinis tidak perlu menurunkan kecepatan.

Berbeda dengan foto dibawah ini yang menunjukkan signal muka warning. Dengan arti, signal selanjutnya adalah aspek tidak aman (warna merah, dan harus berhenti). Untuk itu masinis harus mengurangi kecepatannya.


Setelah melewati signal muka, maka selanjutnya akan ada signal masuk. Yaitu signal yang menentukan apakah KA terus, stop, atau jalan pelan-pelan. Gambar dibawa ini menujukkan signal masuk dengan arti: KA harus jalan dengan kecepatan terbatas karena akan masuk sepur belok (masuk jalur percabangan), dan kemudian berhenti. Mungkin karena harus bersimpangan dengan KA lain.


Sedangkan gambar dibawah ini menampilkan signal masuk dengan aspek aman, karena KA masuk sepur lurus.


Sedangkan jika kedua palang signal tertutup (horizontal), maka artinya KA belum boleh melewati signal tersebut. Kemungkinan penyebabnya proses langsir belum selesai atau hal lain.

Signal tipe lain adalah signal yang palangnya hanya satu. (Sory gak tau namanya, kan dah bilang belum tau terlalu banyak). Dibawah ini adalah signal dengan aspek aman. Sehingga KA dapat berangkat.

Kadang juga ada seperti yang dibawah ini. Signal ini berada di jalur keluar Stn. Pasar Turi menuju ke Stn. Kalimas atau ke Stn. Sidotopo. Ada dua signal, munurut gue (sok tau nih) setiap signal itu mewakili apakah akan menuju ke Kalimas atau ke Sidotopo. Karena yang aspek aman adalah signal sebelah kiri,maka mungkin loko class D itu akan menuju ke Stn. Kalimas.

Saya akan menunjukkan peristiwa persilangan dua rangkaian KA. Coba lihat, KA ekonomi ini tertahan signal keluar. Kenapa dia tertahan, ternyata kita lihat di kejauhan, signal masuk menunjukkan aspek aman untuk KA yang berlawanan. Jadi setelah itu akan ada KA lain dari arah berlawanan masuk ke sepur lurus.

Selain jenis signal di atas masih ada banyak lagi jenis lain. Seperti yang ada di stasiun Semut Surabaya. Saya masih tidak tau apa arti signal dibawah ini. Mungkin tiap lengan menggambarkan setiap jalur di stasiun ini.

Juga ada signal seperti di bawah ini, yaitu signal langsir. Jika x berarti boleh langsir.

Atau juga singal jenis dibawah ini. Dua buah bundaran warna hijau. Signal ini mununjukkan pembatasan kecepatan. Biasanya setelah signal ini ada signal bulat warna merah yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang membuat KA harus berjalan dengan kecepatan rendah. Misalnya perbaikan rel atau kecelakaan.

Dan ada juga singal stop yang diberikan oleh PPKA.


Setelah saya menjelaskan (dengan sok taunya) signal-signal yang ditujukan untuk mengatur kecepatan, masuk-keluar, dan jalan atau berhenti, maka di bawah ini saya tunjukkan signal, atau lebih tepatnya disebut rambu-rambu. Foto dibawah ini adalah rambu yang menunjukkan kondisi jalur yang akan di lewati. Apakah akan naik, turun,atau mendatar. Foto dibawah menunjukkan jalan akan naik (setelah terowongan) setelah tanda ini.


Sebaliknya foto dibawah ini menunjukkan jalan akan turun setelah rambu.


Seperti yang saya ceritakan diawal, KA adalah transportasi yang rumit, bahkan untuk membunyikan klaksonnya pun harus di atur. Foto dibawah ini adalah semboyan 35. Dimana seorang masinis harus membunyikan klakson dengan kode tertentu. Semboyan ini menunjukkan bahwa persilangan dengan jalan di depan.


Sudah sedikit mengertikan? Mengenai signal dan rambu di dunia persepuran. Padahal masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin lain waktu saya bisa sambung. Kalau ilmunya sudah numpuk.

09 Oktober 2008

Dipo Induk Sidotopo

Foto by M.Lutfi

Sejak saya ikut milis keretapi, suatu milis yang isinya kumpulan orang-orang penggila kereta api (edan sepur) dan tentu saja isinya ya mbahas masalah per-sepur-an dari A s/d key ASCII 255, saya selalu iri jika melihat postingan foto-foto kegiatan mereka di dipo-dipo, bengkel, stasiun. Apalagi jika ada kegiatan keluar kota. Ingin rasanya untuk ikut berpartisipasi. Sayang apa daya, waktu tidak mengijinkan untuk itu. Tetapi, pada hari kemenangan kemarin, keinginan itu akhirnya terkabul! Berawal dari pengumuman adanya kegiatan silaturahmi di rumah Khrisna Karel, anggota IRPS Bandung, yang kebetulan orang tuanya adalah masinis senior di dipo Sidotopo. Membaca undangan itu, saya sangat ingin untuk hadir, tapi masih terbentur jadwal acara lebaran di Kediri. Lah, ndilalah, saya harus kembali ke Surabaya di hari Kamis. Tepak iki, undangan kegiatan adalah hari Sabtu. Akhirnya pun saya bisa menghadiri undangan itu. Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku menginjakkan kakiku didalam dipo Sidotopo. Berbaur dengan kumpulan lokomotif, ceceran oli, dan bau asap solar mesin diesel lokomotif. Bersama rekan-rekan melihat interior kabin CC20412 yang masih kinyis-kinyis, dan merasakan deru mesinnya yang "merdu".

   
Foto by Asep

  
Foto by M.Lutfi