Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 29 Januari 2018

AOS Crash setelah membuat view

Lagi mau buat inquiry baru di AX, dimulai dengan membuat Query-nya, kemudian dimasukkan ke view baru. Tapi tidak seperti biasanya! Jika biasanya di data source nya bisa di lihat struktur query nya. Hmm, dicoba synchronize dan compile tetap tidak bisa muncul.

Akibatnya saya ga bisa memilih field untuk ditampilkan di view itu. Kemudian saya pilih field yang sudah tersedia (standart, seperti recId, createdBy), dan disimpan. Dan...AX nya muter-muter proses...lamaaaa, dan akhirnya putus. Wow! Cek di server nya, ternyata mati service nya. Dicoba start lagi, ok bisa nyala. Terus coba buka view yang bermasalah tadi. Belum sempat buka viewnya, baru buka tree node view ax nya hang lagi dan mati.

Browsing2 di internet, nemu ini:
https://dynamicsuser.net/ax/f/developers/74092/how-to-delete-form-without-clicking-on-it?pi2195=1



Sepertinya secara tidak sengaja membuat view itu menjadi circular reference. Trus solusinya? Setelah browsing2 lagi, ketemulink ini:
https://dynamicsuser.net/ax/f/developers/65072/aos-crashing-again-and-again-after-creating-a-query-and-a-view-help-me


Saya langsung saja eksesuksi via database, karena memang nama view nya juga tidak ingat betul. Pertama saya perlu tau element pastinya. Saya query dulu elememnt yang dibuat pada tanggal 29 Jan 2018 oleh saya:

select * from modelelementdata where CreatedDateTime >= '2018-01-29'

Dari situ saya dapat ElementHandle nya. Kemudian saya cek di tabel ModelElement

select * from ModelElement where ElementHandle IN( 984094,984098,984101,984102,984103,984105)

Disitu terlihat view yang bermasalah dan field-fieldnya. Akhirnya saya hapus langsung ModelElement dan ModelElementData atas view yang bermasalah itu.

Dan Alhamdulillah, AX kembali seperti sediakala.

Note: Kejadian ini berlangsung di AX Development, bukan Production. Jadi jikapun gagal, saya masih ada opsi restore database. Jika ada yang mencoba cara ini namun ternyata tidak sesuai, maka resiko ditanggung sendiri.

Sabtu, 27 Januari 2018

Review busur bambu laminasi pvc

Sebelum membuat busur bahan fiberglass sendiri, saya memiliki busur bambu lapis PVC. Busur yang saya beli seharga 300 ribu dari produsen busur di kota Malang. 

Busur ini memiliki banyak dua lapisan limb. Pertama kalian bambu yang cukup tebal bagian tengah. Kemudian lapisan PVC.




Bambu yang digunakan sepertinya dalam kondisi masih basah. Pengeleman pun kurang bagus, sehingga baru satu kali pakai beberapa bagian lapisan sudah terbuka. Perlu di lem lagi.
Penggunaan bahan bambu memiliki kelemahan. Yaitu tidak sempurna kembali ke kondisi semula ketika di lengkungkan. Pertama kali tarik busur ini akan berbeda setelah 1 bulan. Karena saya pegas nya sudah berkurang drastis.
Sebab beban tarikan sekitar 30 lbs Busur ini baik pada jarak 10m. Di atas itu sudah harus mengatur sudut panah agar lintasan parabolic nya pas. Jarak diatas  30 m cukup sulit saya mengendalikan laju anak panah. Saya berkesimpulan lentingan busur ini tidak bagus. Penggunaan busur ini juga harus menggunakan teknik katra. Jika tidak akan melenceng ke kanan.
Busur ini saya gunakan hanya selama kurang lebih 3 bulan. Karena busur ini patah. Informasi dari rekan rekan, PVC memang memiliki umur sekitar 3 bulan. Setelah itu mudah patah.


Jumat, 26 Januari 2018

Busur EFG karya sendiri

Busur fiber ini saya beri nama ZX 130 karena sesuai dengan warnanya yang hijau seperti warna sepeda motor zx 130. 
Busur ini adalah busur pertama dan satu-satunya yang saya rakit sendiri. 
Cukup lama saya membeli bahan-bahan untuk rakit, sebelum akhirnya menjadi busur. Awalnya busur ini bertipe persia, sengan handle yang melengkung. Namun pada percobaan pertama perakitan, ternyata handle patah setelah saya diamkan busur selama semalaman.
Sempat marasa putus asa karena harus mencari lagi handle pengganti, namun akhirnya  kembali bersemangat untuk merakit lagi. Dari pengamatan terhadap perkembangan busur fiber, para pembuat busur fiber melakukan tapper pada fiber pada bagian ujung siyah. Tujuannya agar energi pegas tersebar merata dari pangkal sampai ujung siyah. 
Maka diputuskan untuk sekalian melakukan tapper pada fiber yang akan dirakit ini. 
Spesifikasi fiber, panjang 120cm, lebar 4cm, tebal 6mm. 
Dipotong sehingga tersisa panjang 110 cm. 
Dari informasi beberapa rekan, memang fiber 6mm sering "memakan korban" handle karena terlalu tebal. Terutama di model persia.
Rata-rata pembuat busur fiber lebih menyukai fiber dengan tebal 4-5mm. 
Dengan perubahan rencana awal (awalnya tanpa tapper), maka siyah perlu ditipiskan agar pas dengan ujung fiber yang lebarnya 2cm (setelah ditapper).
Dengan peralatan yang terbatas dan minimnya pengalaman, pengerjaan penipisan siyah memakan waktu lebih dari 1minggu.
Selain itu, model busur saya rubah menjadi model turkis. Handle yang patah saya modifikasi untuk dijadikan bagian depan handle.
Busur model turkis menggunakan dua bagian handle (depan dan belakang) yang mengapit fiber. 
Sedang handle belakang saya menggunakan ex handle busur laminasi pvc-bambu yang telah patah. 
Handle ini dimodifikasi juga agar menjadi lebih tipis karena sebelumnya merupakan handle bagian depan.
Kelebihan pembuatan busur model turkis adalah tidak diperlukan klem C karena cukup menempelkan kayu ke fiber. (jika ada klem C, sebaiknya tetap digunakan agar lebih rekat).
Sebagai pengganti klem C, saya gunakan tali sumbu untuk mengikat bagian handle yang telah saya lem dengan lem epoxy.Saya diamkan lem selama 24 jam.
Dikarenakan pengerjaan handle tidak halus, maka posisi kayu tidak mengapit fiber dengan sempurna. Ada bagian-bagian yg tidak menempel di fiber. 
Untuk ini saya akali dengan memasukkan lem Epoxy cair (sejenis lem alteco/lem G) kedalam ronga-rongga yang ada, ditambah dengan serbuk gergaji. Saya diamkan lagi 24 jam.
Pengeleman dengan epoxy cair atau pun yang pasta dilakukan satu persatu dari bagian handle, tidak sekaligus bagian depan dan belakang.
Selanjutnya dilakukan pengeleman pada kedua siyah, dengan cara yang sama.
Setelah proses pengeleman selesai, maka dilanjutkan dengan proses melilit dengan bendang nylon. 
Fungsi lilitan ini sangat penting, karena sebenarnya adalah penambat utama bagian siyah, handle, dan fiber. Pengguaan lem saja tidak akan dapat menahan fiber dan kayu.
Mungkin jika lem yang digunakan memiliki ramuan seperti pada busur laminasi tidak diperlukan lagi penggunaan lilitan nylon.
Proses pelilitan diharuskan rapat dan kuat. Makin rapat, maka semakin kompak busur dan fiber bersatu. Terlebih lagi busur dengan tarikan diatas 40 lbs.
Jika proses lilitan selesai, maka tinggal dibuatkan string busur. Saya menggunakan string eks busur Cartel yang telah putus. Busur Cartel memiliki string yang panjang nya 70".
Walau sudah putus, masih lebih dari cukup untuk dijadikan string busur fiber ini.
Hasil pengetesan busur ini, kesan pertama, jauh lebih enak daripada busur laminasi pvc-fiber yang pernah saya gunakan. Akurasi cukup baik untuk jarak dibawah 20m. 
Saya coba jarak 40m, ternyata tidak sampai.Hand-shock, cukup terasa. Mungkin karena bentuk siyah yang masih besar. Tarikan busur masih belum sesuai dengan harapan.
Awalnya diperkirakan bisa sampai 40lbs. Ternyata masih jauh. Jika ingin menambah tarikan, maka bisa dilakukan pemotongan fiber hingga menjadi 90-80cm. 
Atau juga dengan memanjangkan handle bagian belakang sampai sekitar 30cm.




Update:
Karena ikatan siyah dirasa sudah kendor, maka saya putuskan sekalian menaikkan lbs dengan cara memotong fiber 4 cm di setiap ujung.
Selain itu handle saya sesuaikan genggaman karena yang lama terlalu besar sehingga membuat sakit tangan. Siyah juga saya ganti dengan siyah ex Busur bambu. Plus ditambah stiker untuk mempercantik