Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 30 Juni 2008

Hadiah Kesabaran

Sudah lebih dari tiga bulan laptop ku jika layarnya di buka berbunyi "kretek - kretek - kretek". Dah kayak mau patah aja. Walaupun secara sistem laptop masih sehat-sehat aja, tapi rasanya risi deh dengerin suara itu. Padahal tampilan udah elegant koq suaranya nggilani. Karena wis gak tahan dengan suara itu, akhirnya ku sempatkan untuk tanya di customer service, di Gedung Wisma Dharmala. Lumayan jauh dari kantor, dan tentu harus ijin kalau mau service, karena hanya buka Senin - Jum'at dan jam kantor.

Sampai disana ditemui mba' cantik, lisa gak salah namanya, sambil tanya "Ada masalah apa pak?". Langsung deh saya demokan buka laptop. Loh! Koq gak bunyi, wah si laptop jaim nih. Tak coba lagi. Tetep gak bunyi, mulus suaranya. Oh mungkin karena belum panas, jadi gak ada suara. Akhirnya ya cuma jelasin lewat lisan. Bla bla bla.... Trus, laptop di bawa kedalam untuk dilihat teknisi. Lima menit kemudian dah keluar. "Laptopnya gak apa-apa pak, ini hanya mekanisnya". Trus?? "Mekanis gak termasuk garansi, jadi harus bayar (lupa gw) 160ribu." Eng ing eng. Wah buat makan-makan di Hanamasa enak tuh. Trus waktunya kira-kira 1 minggu. Dhuar...tambah ngeri nih. Ya udah deh, gw relain tetep mendengar suara "kretek - kretek -kretek ". Ku melangkah gontai kembali ke kantor.

Kita lupakan masalah "kretek-kretek" itu. Karena kuping ini udah mulai terbiasa. nDilalah koq kemarin sabtu ada masalah baru. Led mute dan volume bar gak berfungsi!! Wah ini gak bisa didiemin. Dijamin mikiri terus nih. Padahal sebelumnya led volume bar juga udah mati, tapi masih bisa berfungsi. Sekarang blass gak berfungsi. Tekad sudah bulat untuk menyelesaikan masalah ini segera. Rencana digelar. Hari Senin browsing dulu di Internet, ada gak solusinya. Klo gak ada, telpon ke Wisma Dharmala aja. Klo gak bisa juga, ya ke Wisma Dharmala.

Hari senin, begitu sampe kantor, langsung cari di google. Ada beberapa yang memper, gw lihat, baca, ikuti download driver. Eh tetep gak bisa. Cara kedua, telepon ke HP Customer Care. Dijawab sama mbak yang cantik dulu, trus dihubungkan ke teknisi. Kata teknisi kemungkinan itu hardwarenya. Hmmmm. Disarankan untuk datang langsung. Ok bung. Saya datang langsung! Meluncurlah gw di siang bolong yang panas menuju Wisma Dharmala. Sampai di sana, mbak cantik tampak sibuk melayani customer. Tenang, saya akan menunggu. Lima belas menit berlalu, akhirnya nomer urut 29, nomor ku. Langsung buka laptop, trus mbak cantik tanya "Kenapa pak?". Ku tunjukin, klo mute nya gak berfungsi, begitu pula dengan volume controlnya. "Oh, ini mas yang tadi telpon, yang dari sukomanunggal". Wah inget aja dia. "Tenang aja mas, coba saya bawa ke dalam". Iya mbak, sudah tenang ini.

Nunggu 15 menit, dan keluarlah si laptop kotak. "Ini mas sudah bisa, coba di cek" kata teknisi yang mengantar. Gw coba, "tick-tick-tick" wah udah bisa nih. Girang deh hatiku. "Makasih ya mas", seneng deh. Kali ini dengan hati puas aku kembali ke kantor. Dikantor gak sabar untuk mencoba si kotak hitam ini. Trus,...wah kayaknya aq dapat bonus service nih. Ternyata engselnya yang biasa bunyi "kretek-kretek" dah gak bunyi lagi. Alhamdulillah!! Wah ternyat ini adalah balasan atas kesabaranku. Jadinya kan save 160ribu.

Jumat, 27 Juni 2008

Nizar punya Blog



Akhirnya, ide untuk membuatkan blog bagi Ahza ter realisasi juga.
Silahkan mampir untuk melihatnya.
Tapi mohon maap, tampilannya masih amburadul...maklum rumah baru

Alamatnya : http://nizarahza.blogspot.com/

Kamis, 26 Juni 2008

WC Umum!



Coba lihat foto diatas. Kira-kira apa yang aneh?
Ya, bukan aneh sih. Tapi menyedihkan. Difoto tersebut tertulis "WC Umum Mushola". "WC" nya besar kemudian "Umum" dan "Mushola" kecil. Kenapa ya di negara yang mayoritas menyembah tuhan Alloh swt (tanpa embel-embel tuhan lain), tetapi koq tidak sadar akan agamanya. Mushola itu kan tempat ibadah, tempat "meeting" dengan sang pencipta, tetapi koq letaknya dekat (menjadi satu komplek) dengan WC, tempat manusia membuang kotorannya!! Umum lagi!!. Mungkin lokasinya jauh, hanya tulisannya yang di dempetin??? Sama aja lah, itu tandanya tidak menghormati.

Yah emang susah hidup di negara semi sekuler. Yang penting adalah masalah dunia, daripada masalah akhirat. Bikin publik area (seperti Mall) yang bangunannya megah, menghabiskan listrik ber-ribu-ribu watt eh mushollanya kecil, lokasinya jauh, panas, pengap, dan bising. Ya sadar diri juga sih, wong yang punya bukan orang yang sholat... Kasihan ya umat Islam di Indonesia, bagai ayam yang kelaparan di lumbung padi....

Jumat, 20 Juni 2008

Tanda Kematian

Ini adalah seri pertama dari seri "Kebenaran di depan mata", yaitu tulisan Saya mengenai pengalaman menemukan hal-hal yang membuat sadar, bahwa apa yang diatur-Nya adalah yang paling baik bagi manusia.
Tanda Kematian
Pernahkan Anda mendengar bahwa tanda-tanda akan kematian telah tampak pada 40 sebelum kematian? Ternyata hal tersebut ada benarnya. Empat puluh hari sebelum kematian bapak Mertua, ada hal-hal aneh yang terjadi di dalam diri beliau. Tanda pertama adalah sering melamun, tidak mau masuk ke dalam rumah. Termenung dengan pandangan menerawang. Selain, itu kadang-kadang juga melakukan hal-hal yang tidak dapat kita mengerti, seperti tiba-tiba mengecat rumah dengan warna yang tidak biasa, atau tiba-tiba membersihkan gudang barang yang tidak terpakai. 
Pada masa 40hari tersebut pula, tiba-tiba emosi beliau seperti tidak terkontrol, begitu pemarah, tidak pilih-pilih, tetapi pemarah terhadap semua orang. Dalam hati saya bertanya, Apa yang sedang terjadi? Apakah ini "azab"? Ah tidak, bapak orang yang taat beribadah dan cukup kuat untuk berpegang teguh pada tali Alloh. Berarti ini adalah peringatan/ujian pada keluarganya. Memang benar rasanya, karena pada tiga hari sebelum wafatnya, prilaku tersebut sirna. Rasanya seperti orang yang sedang bersandiwara. 
Akhirnya, saat kematian tiba, wajah beliau menjadi bersih, dan tersenyum. Layaknya seperti tidur yang damai.
Dari kejadian tersebut, saya menyimpulkan, bahwa diri ini memang bukan milik kita, tetapi benar-benar full dikuasai oleh Alloh sang pencipta. Walaupun jika saat sehat manampakkan prilaku sholeh, tetapi tetap Alloh lah yang menentukan saat kematian kita, dalam keadaan seperti apa. Dan tentu Alloh maha tahu atas apa yang ada di dalam hati kita.

Jumat, 13 Juni 2008

Pistol di Peristiwa Monas

Siapakah Dia? Apakah sekarang di periksa Polisi karena kepemilikan senjata api dan mempertontonkannya di depan pubik?

Minggu, 08 Juni 2008

FPI + Banser NU = ?


Agaknya tingkat "kenabian" Mirza Gulam Ahmad masih kalah dengan tingkat "kenabian" Abdurahman Wahid. Coba lihat sekarang. Gara-gara FPi menghina Wahid, langsung gelombang kemarahan muncul di seluruh wilayah Jawa (terutama Jawa Timur). Ber-ratus-ratus orang (mungkin sudah ribuan ya?) "terpanggil" untuk "berjihad" melawan FPI. Dari yang hanya bermodal keberanian, sampai bermodal tenaga dalam.

Tidak tanggung-tanggung, mereka menamakan diri "Pasukan Berani Mati"! Sebuah pasukan yang mengerikan. Semangat mereka setara dengan pasukan Salahuddin ketika menaklukkan Al Quds dari tangan pasukan Salib. Bedanya, jika pasukan Salahuddin jihad atas nama Alloh, maka mereka jihad atas nama Abdurrahman Wahid.

Jika saya menjadi Abd. Wahid, sepertinya saya sudah tidak perlu takut apa-apa, karena di kelilingi prajurit loyal yang siap mati demi saya. Makanya Wahid saat mengeluarkan pendapat/komentar tidak pernah "sungkan". To the point langsung, walaupun yang dia komentari itu sekelas Jendral. Mungkin harusnya FPI dan Wahid itu bersatu. Coba bayangkan, FPI yang sendiri saja berani mensweeping tepat-tempat maksiat, apalagi jika digabungkan kekuatan laskar Wahid! Sunggu menjadi kekuatan yang hebat! Dalam bayangan saya, pasti negara menjadi aman, polisi gak perlu kerja lagi, ada kemaksiatan sedikit, langsung FPI + Laskar Wahid bergerak untuk memberantasnya. Begitu pula ketika kriminalitas terjadi, FPI dan Laskar Wahid akan mengejar sampai ke sarang-sarangnya! Tetapi "impian" saya yang paling saya ingin terjadi adalah penguasaan aset-aset bangsa dari tangan asing! Begitu bahagia rasanya jika FPI + Laskar Wahid berhasil mengasai kilang minyak yang dikuasai Cevron atau Exxon. Atau, ketika FPI dan Laskar Wahid menggrebek Namru II (Lab Senjata Biologi Rahasia USA di Indonesia). Semuanya dapat terlaksana cukup dengan perintah dari Wahid.

Tapi...semuanya hanya mimpi, mungkin nanti yang akan saya lihat adalah "perang" antara Laskar Wahid dan FPI, tentu yang senang adalah Ahmadiyah karena musuh mereka sudah berkurang satu atau mungkin dua (kalo sama-sama babak belur antara FPI dan laskar Wahdi). Kemaksiatan tetap berjaya dan tertawa-tawa. Wanita-wanita makin menggumbar aurat. Akhirnya, Alloh menjatuhkan murkanya dengan bencana alam yang menimpa dengan dasyatnya, atau kelaparan yang menyelimuti mayoritas penduduk Indonesia melalui kenaikan BBM, Harga Pokok, dll.

Kamis, 05 Juni 2008

Makar Di Kerusuhan Monas

Masih kelanjutan "perang berita" atas peristiwa Monas. Karena berita-berita dari sisi contra FPI sudah sangat banyak diketahui masyarakat, malahan mungkin hampir semua berita yang beredar di TV dan Koran adalah contra FPI, maka saya akan menampilkan semua berita yang pro FPI. Pro maksudnya tentu pro kebenaran, apakah nantinya ternyata FPI benar-benar salah yang penting harus ada berita penyeimbang. Karena selama ini berita-berita tidak seimbang, subyektif ke contra FPI.

Makar Di Kerusuhan Monas
sumber: http://www.alhikmah.ac.id/?pilih=news_artikel&mod=yes&aksi=lihat&id=99
Ketika terjadi kerusuhan di Monas, yang sebenarnya tidak terlalu besar,
dan biasa terjadi dalam demo-demo, saya tidak menyangka, efeknya akan
begitu besar dalam masyarakat. Kerusuhan yang kecil dan hanya melibatkan
beberapa ratus orang saja, dan tidak menimbulkan korban jiwa, segera berubah dan seakan-akan digiring menjadi konflik horizontal antar masyarakat Islam dan antara FPI dan aparat keamanan.

Keadaan seperti ini menimbulkan pertanyaan bagi saya, makar apalagi ini yang telah disusun oleh musuh Islam, oleh orang yang berkpentingan memperkeruh situasi ?
Ujung-ujungnya, Ummat Islamlah yang rugi, ummat Islam yang babak belur dan terpecah-belah sendiri.

Desakan untuk membubarkan Ahmadiyah, yang beberapa minggu lalu sangat kuat dan didukung oleh semua ormas Islam, sekarang bergeser menjadi bubarkan FPI, yang notabene bukanlah pelaku kerusuhan. (sebagaimana pengakuan ketua FPI dan bukti dari wartawan, bahwa laskar yang bergerak dan melakukan tindakan kepada AKKBB adalah Laskar Pembela Islam, yang memang ada anggota FPI turut serta, namun tidak secara resmi).

Saya bukanlah ingin mencari siapa yang benar atau yang salah, tidak pula ingin mendukung salah satu pihak, dan tidak pula ingin menyalahkan pihak lain (kecuali Ahmadiyah, yang memang menurut saya jelas-jelas salah dan harus dibubarkan). Mari kita melihat, implikasi, ekses dan kerugian apa yang akan kita derita jika kita terseret dalam makar jahat ini.

Kerusuhan di Monas, oleh pihak tertentu, sengaja atau tidak, disadari atau tidak, telah berhasil memecah belah ummat Islam, terutama di Jawa Timur. Ormas Pemuda Islam yang merupakan underbow dari sebuah partai politik , sudah menyatakan akan membubarkan FPI secara paksa, jika polisi tidak membubarkan FPI. Konstalasi ini, jelas telah menghancurkan satu sendi persatuan ummat Islam, yang jelas, berujung pada retaknya ukhuwah ummat. Ketidakbijakan pemimpin ormas Islam tersebut, yang bahkan didukung pula oleh pengurus partainya, yang malah mendorong anggotanya untuk bergerak dan melakukan cara-cara kekerasan, makin mendorong panasnya situasi.

Sangat disayangkan, bahwa partai politik Islam, yang seharusnya menjadi perekat, meredakan suasana, malah seakan-akan menjadi pemicu, memanaskan situasi. Para pemimpinnya seakan tidak bisa mengendalikan dan meredam, bahkan malah membakar emosi pendukungnya, untuk menyerang, membubarkan secara paksa ormas Islam. Indikasi ini dapat terlihat kasat mata, bahwa, desakan pembubaran FPI, dan ancaman gerakan dan demo, menguat di Jawa Tengah dan Jawa Timur, daerah kantong pendukung partai tersebut. Didaerah lain di Indonesia, malah tidak terdengar.

Ada usaha menasionalisasikan kerusuhan, pembubaran dan penegakan hukum terhadap pelaku insiden monas, oleh pihak-pihak tertentu, disengaja ataupun tidak. Skenario ini terlihat dari misalnya, presiden yang langsung memberikan komentar tentang kerusuhan di Monas, yang mencitrakan kerusuhan tersebut sangat besar dan berbahaya. Beberapa waktu kemudian, semua media televisi dan cetak, menurunkan berita. Bahkan sebagian media langsung menunjuk hidung FPI sebagai pelakunya. (dalam pemantauan saya, RCTI, SCTV, TVOne, Metro TV langsung menunjuk FPI sebagai pelaku kerusuhan, media tersebut memuat berita yang sangat tidak berimbang dan subjektif, sedangkan Indosiar masih mengatakan “oknum berseragam” FPI. Lebih parah lagi, Koran Tempo memuat foto sangat besar dihalaman pertama, gambar Munarman, pimpinan demo Laskar Islam, yang sedang mencekik dan menganiaya anggota AKKBB, dan ternyata, itu adalah Foto Munarman sedang mencekik anggotanya sendiri karena ingin mencegah mereka berbuat anarkis).

Tentu Isu yang menasional ini dapat saja menjadi sebuah pembelokan perhatian dari isu-isu BBM yang belakangan marak.

Disisi lain, penayangan berita kerusuhan antar ummat Islam dan adanya perpecahan menambah stigma dikalangan eksternal, bahwa ummat Islam tidak bersatu, mudah terpecah, suka kekerasan dan lain sebagainya.

Apapun ekses dari peristiwa ini, Jelas ummat Islam yang mengalami kerugian besar. Perpecahan dan konflik grassroot sangat potensial terjadi. Belum lagi desakan pembubaran FPI, yang kalau terlaksana akan merugikan ummat. FPI adalah asset ummat, yang saling melengkapi dalam memperjuangkan Islam. (dalam pandangan saya yang awam ini, bila FPI bubar, maka yang senang adalah para Bandar judi, pemilik klub dan bar, agen miras). Kecuali jika ormas-ormas yang merasa benar dengan membubarkan FPI tersebut mampu menggantikan peran FPI dalam amar ma'ruf nahi munkar di masyarakat, dengan tangannya.

Oleh karena itulah, untuk menghindarkan ekses yang lebih luas maka diperlukan kebijaksanaan dari para pemimpin ummat, bekerjasama dalam rangka terus menjaga ukuwah.

Kepada Habib Riziq yang saya kagumi, teruslah berjuang dengan tetap menjaga kesantunan dan persatuan ummat. Jangan mudah terprovokasi, dan tetap berada pada koridor hukum yang berlaku

Kepada Pimpinan partai Islam, ormas kepemudaan Islam, yang ingin membubarkan FPI dengan kekerasan dan pemaksaan, mohon bersabar, dan tidak melakukan provokasi yang malah menambah runyam suasana. Sebagai pemimpin, bijaklah dalam berkata dan bertindak.

Kepada Pimpinan NU, salut saya, terutama kepada KH Hasyim Muzadi, dengan himbauannya yang menyejukan hati Ummat, dan tidak ikut-ikutan ormas Islam lain, yang mengecam satu pihak. Bapak telah berhasil memelihara ukhuwah ummat.

Kepada KH Maman Imanul Haq, salah seorang pimpinan AKKBB, mohon , jika Bapak seorang kyai, jagalah persatuan ummat, jangan juga memprovokasi, mengingat pernyataan bapak yang malah menyesalkan pernyataan KH Hasyim Muzadi. Apakah Bapak ingin NU juga terseret dalam konflik ini ?

Kepada semua Ummat Islam, bersabarlah, jaga ukhuwah kita, jangan biarkan orang lain gembira karena perpecahan kita.

Selasa, 03 Juni 2008

Catatan Kritis insiden Monas

EMPIRIS: Sekali lagi, media massa menunjukkan kegagahannya. FPI sekarang yang menjadi sasaran tembaknya. Trial by the Press menghantarkan FPI menjadi terdakwa yang harus segera dihukum, dengan cara dibubarkan. Provokasi-provokasi media massa ke tengah ruang publik menyisakan banyak tanda tanya bagi Ummat Islam Bangsa Indonesia.

Setidaknya beberapa catatan kritis di bawah ini mesti jadi bahan perhatian kita semua:


1. Kenapa media massa seperti Kompas dan MetroTv sepertinya mengabaikan fakta kalau aktivitas AKK BB pada hari itu melanggar UU yang mengatur masalah demonstrasi? Kompas dan MetroTv secara tendensius langsung memvonis FPI sebagai ormas yang merusak semangat dan nilai-nilai keIndonesiaan, mendakwa FPI sebagai ormas yang tidak berhak menamakan dirinya sebagai pembela Islam dan seterusnya. Yang pada ujung kesimpulannya, FPI harus segera dibubarkan oleh pemerintahan SBY.

2. Kenapa harian Koran Tempo sebagai surat kabar nasional terkemuka tidak melakukan prosedur jurnalisme yang sesuai dengan harum namanya? Akibatnya, sekali lagi FPI menjadi korban fitnah yang cenderung terencana.

3. Kenapa tidak jelas terungkap di media massa kalau pada waktu kejadian, FPI hanyalah salah satu unsur ormas dari sebuah kegiatan demonstrasi yang sesuai dengan hukum (mendapatkan izin) dalam rangka menolak kenaikan harga BBM?

4. Kenapa SBY-JK sangat sigap sekali menanggapi keinginan orang-orang yang menghendaki pembubaran FPI? Bahkan seperti dengan sangat berlebihan, langsung menggelar rakor polkam. Padahal, Ummat Islam yang menghendaki pembubaran Ahmadiyyah lebih banyak, insiden berkaitan dengannya pun jumlahnya lebih dari satu kali. Kenapa Presiden sepertinya lebih bernafsu membubarkan FPI daripada Ahmadiyyah? Catatan tambahan: pada waktu kejadian FPI sedang menjaga keamanan Massa ormas-ormas Islam dalam mendemo kebijakan SBY-JK (kenaikan harga BBM), apakah ini ada kaitannya?

Dari catatan-catatan kritis di atas, setidaknya kita mesti waspada atas hal-hal sebagaii berikut:

1. Adanya kemungkinan kalau isu pemukulan oknum-oknum AKK BB memang diharapkan oleh orang-orang yang menggagas AKK BB. Pemukulan itu memang sangat potensial untuk membalikkan keadaan yang sekarang menjepit Ahmadiyah. Dengan cara memposisikan orang-orang Ahmadiyyah dan orang-orang yang bersamanya menjadi sebagai pihak yang teraniaya, ada kemungkinan arah angin akan berubah. Simpati publik, itulah yang diharapkan orang-orang AKK BB. (mirip kenaikan SBY menjadi presiden, skenario mendapatkan simpati publik dengan menjadi pihak yang teraniaya).

2. Selain itu insiden Monas bisa jadi pengalih isu Media Massa. Saat ini setidaknya pemerintahan SBY-JK sedang kerepotan menghadapi isu Kenaikan BBM dan SKB 3 mentri mengenai Ahmadiyah. Dengan terjadi insiden Monas, maka isu media massa jadi berubah. Isu yang hangat sekarang adalah tentang kebrutalan orang-orang macam FPI yang merusak kebhinekaan di Indonesia. Isu yang kemudian diharapkan menjadi konsumsi polemik publik adalah isu tentang bagaimana berIslam yang baik. Seperti sekali lempar batu, 2 burung mati, bukan?

3. Ummat Islam Bangsa Indonesia mesti mewaspadai kemungkinan tenggelamnya rencana pemerintah menerbitkan SKB 3 mentri mengenai keberadaan Ahmadiyyah.

4. Ummat Islam Bangsa Indonesia jangan mau menjadi korban dari kemungkinan adanya upaya mengadu domba Ummat Islam Bangsa Indonesia dengan jalan mengadu-adukan ormas-ormas Muhammadiyyah, NU dengan ormas-ormas muda seperti FPI.

Terlepas dari semua hal di atas, insien Monas adalah hasil dari ketidaktegasan Pemerintahan SBY-JK dalam menindak keberadaan Ahmadiyah yang melakukan penodaan terhadap agama Islam. Inilah bukti kongkrit dari kesulitan yang dihadapi Ummat Islam bila memposisikan diri berada di bawah konstitusi yang tidak mengakui Islam sebagai seperangkat Diin yang utuh. Karena dibawah konstitusi yang sekarang diakui, Islam hanya dipandang sebatas agama, tidak lebih dari sekedar sebuah ajaran tentang baik dan buruk, yang tidak mempunyai peraturan bagi pemeluknya yang melanggar peraturan.

Sumber: http://pkspiyungan.blogspot.com/2008/06/catatan-kritis-insiden-monas.html