Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 13 Juli 2008

Hadiah Kesabaran 2


Ceritanya karena ada acara manten di Jakarta, maka aku dan keluarga meluncur ke Jakarta. Dengan bermodal beberapa lembar uang ratusan ribu, kita berangkat dengan menumpang KA Gumarang kelas Bisnis. Wah tidak disangka ternyata penuh banget. Sudah seperti waktu lebaran. Namun secara umum tidak ada kesulitan yang kami temui selama di perjalanan.
Nah ceritanya berbeda ketika akan melakukan perjalanan kembali. Sejak datang di Jakarta, tiket KA untuk kembali sudah terpesan semua, alias habis. Gumarang Eksekutif habis, terlebih bisnis. Bapak menyarankan mencari tiket di st. Jakarta Kota. Ok deh, besok Senin saya akan mampir ke sana.
Senin siang, sekalian nganter keluarga lain yang pulang duluan, saya mampir di stasiun Kota. Wah ternyata benar-benar habis sampai tanggal 14 Juli. Saya coba mancari jalan keluar. Oh ya, coba naik bus. Sekalian mencoba naik bus Jakarta-Surabaya. Ada tiga agen bus yang mungkin akan saya tanya. Pertama Kramat Jati di Condet, Continental di Tangerang, dan Akas di rawamangun. Untuk Tangerang, saya serahkan ke Mas Bondan yang rumahnya di tangerang, trus saya sendiri tanya ke PO. Kramat Jati.
Selasa pagi, ke depo PO. Kramat Jati, tanya harga tiket: Rp. 230.000, kira-kira sampe Surabaya diatas jam 11 siang. Wah gak bisa nih! Trus sms ke Mas Bondan, gimana kabar bus di Tangerang? Harga 170.000 sampe Surabaya kira-kira jam 8 pagi. Mmm lumayan murah dan bisa sampe pagi. Walaupun mungkin gak tepat waktu juga. Gw coba alternatif lain, cari info PO. Akas. Di tunggu sampe siang belum ada info. Mas Bondan sms tanya kepastian naik bus yang mana, saya jadi bingung. Nunggu yang satu gak ada kabar, akhirnya saya putuskan naik yang tangerang aja.
Sms dari mas Bondan masuk, isinya: "Bus nya sudah penuh, adanya untuk hari Kamis". Sesaat rasanya darah naik ke kepala. Saya coba berpikir lagi. Klo gitu naik PO. Kramat Jati aja. Saat ini Abid masih di perjalanan menuju ke pool PO. Kramat Jati.
Setelah sholat dhuhur, abid telpon, untuk mengabari bus Kramat Jati sudah full juga. Wah bingung rasanya. Putar-putar otak lagi. Terpikir untuk menitipkan anak dan istri di Jakarta karena jika saya berangkat pulang sendiri maka tak penting apakah harus naik KA Ekonomi tanpa tempat duduk. Tapi rasanya tidak tega juga meninggalkan istri dan anak ku di Jakarta dan pulang sendiri. Mulai berpikir lagi.... Teringat akan antrian penumpang membeli tiket di st. Gambir.
"Mereka ngapain antri jika tiket jelas-jelas habis, pasti mereka antri untuk tempat duduk. Mungkin setiap KA ada tiket tambahan khusus di hari perjalanan." Ok, kalau gitu besok saya niatin untuk antri dari pagi di stasiun gambir. Seandainya tidak dapat tempat duduk, maka saya akan pulang sendiri.
Rabu pagi, naik bus way ke Senen, trus sambung ojek ke Gambir. Sampai di Gambir masih pukul 9 pagi. Tidak ada antrian! Loh?? Oh ternyata loket masih melayani KA Kamandanu. Pukul 10 tiket tutup, langsung terlihat beberapa orang duduk di jalur antrian. Saya pun ikut duduk. Jadi sekarang saya nomer 6 dari depan. Dari obrolan sesama pengantri, tiket tersedia 50 tempat duduk, jadi hanya 25 orang terdepan yang akan mendapat tempat duduk. Dan saya nomer 6, kata orang itu 100 persen dapet tempat duduk.
Ya Alloh, leganya hati ini. Rasanya seperti saat berbuka puasa. Dengan gembira saya sms ke istri untuk mengabarkan bahwa kita akan pulang bersama. Terbayang seandainya kemarin memaksakan untuk naik bus, berapa banyak kerugian yang akan saya terima. Ternyata memang semua ada hikmahnya. Saya bersyukur walau seharian harus mengantri tiket di st. Gambir.

Poji bowo


Minggu kemarin saya mampir di St. Jakarta Kota untuk memesan tiket KA tujuan Surabaya. Tapi sesuai dugaan, tiket sudah ludes sampai dengan tanggal 14 Juli. Yah apes nya, gak beli tiket pergi pulang.
Di parkir stasiun ada "hiburan" yang cukup embuat ku tertawa. Ada tulisan "Poji bowo Oke" di sebuah bak sampah. Mungkin itu maksudnya Fauzi Bowo, gurbenur Jakarta terpilih. Tulisan itu sepertinya dibuat waktu masa kampanye dulu.
Saya jadi menerka-nerka. Model orang seperti apa ya yang menulis tulisan itu?