Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 29 Desember 2008

1430 H

Diantara kesusahan yang di alami banyak saudara kita di seluruh dunia karena penindasan baik secara langsung atau secara tersembunyi (seperti di negara kita), mari kita rayakan pergantian tahun.
Selamat datang tahun 1430 H. Selamat datang semangat baru.
Semangat untuk lebih baik lagi. Semangat yang lebih besar untuk berjuang. InsyaAlloh.
Janganlah kejahatan-kejahahatan mereka membuat kita takut.
Jadikan semuanya sebagai cambuk untuk terus berjuang.
Berjuang demi Alloh, tidak demi apa-apa.
Berhasil atau pun gagal, semuanya hanya milik Alloh.
Hak kita hanyalah untuk mendapatkan rohman dan rahim nya. InsyaAlloh.
Allohu Akbar!! Allohu Akbar!! Allohu Akbar!!

Ya Alloh kabulkanlah do'a kami...


Ya Alloh tolong lah saudara-saudara kami yang berjuang di Palestina. Amin!

Meminang Bidadari…

Cerpen by: Asma Nadia, dari Sabili No. 01 Th X Juli 2002.


Menikah ?”
“Ya..”
“Tentu”, jawab Ayesha tanpa ragu.
“Pertimbangkan dulu. Jangan cepat ambil keputusan.”
Bibinya berkata benar. Ayesha sedikit tersipu, tangannya membenahi abaya yang dipakainya dengan rikuh.
“Dengan siapa, Ammah ?”
Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak meyembung.

Mungkin karena air mata yang siap turun, entah kenapa. Luapan bahagiakah,karena keponakannya yang diurus sejak kecil ini akhirnya ada yang meminang ?

Ayesha menunggu jawaban dari ammahnya. Tapi beberapa kejap hanya dilalui gelombang senyap.
“Ammah….dengan siapa ?”
Pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang-nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah.
Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan pada umumnya.
“Dengan Ayyash !”
Ayyash ?
Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega.

Biarlah…..biarlah Ayesha yang memutuskan….ini hidupnya.
Suara hati wanita itu bicara.

Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tak percaya. Senang, tapi …juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, siapakah dia ?

“Kau pikirkan dulu, ya ? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat lebih baik.”

Ayesha masih tak bergerak. Pandangannya menembus jendela, meyisiri rumah-rumah di lingkungannya, dan debu tebal yang terembus di jalan.

Pernikahan….sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan ? Tapi semua pun tahu, apa arti sebuah pernikahan di Palestina.

Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis, yang menikahi pemuda pejuang macam Ayyash!
***

Dulu sekali, sewaktu kecil, ia tak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa ditutupkan ke wajah, jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitulah Ayesha mengenal Ayyash, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa.

Ayah Ayyash salah satu pemegang pimpinan tertinggi di Hamas, sebelum tewas dalam aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara Yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang intifadah. Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Israel yang mencari penyusup.

Bukan tanpa resiko, karena semua pun tahu, para tentara itu tak menaruh kasihan pada perempuan, atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepas nyawa, adalah taruhannya.

Ayesha sejak lima tahun yang lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia.

Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid, dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat di dahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu.

Pedihnya kehilangan ummi, Ayesha menyadari perasaan berduka yang
bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi, hingga tanah menutup dan memisahkannya dari ibunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. Hanya doa yang terucap tak putus. begitulah Ayyash menghadapi kehilangan abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha, cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai.

Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah lelaki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa. Sewaktu kedua abangnya melakukan aksi bom syahid, meledakkan gudang logistik Israel, ia hanya mengucapkan innalillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, saat memasuki rumah dan mengabarkan berita itu pada umminya.

Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa, dan dibunuh sebelum dilemparkan ke jalan dengan tubuh tercabik-cabik.
Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu di keluarga mereka.

Ayesha tak mengerti terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada dendam yang lalu membuatnya membabi buta atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima semua itu dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Di luar itu, hanya keshalihan, dan ketaatannya pada koordinasi gerak Hamas, yang kian bertambah. Begitu, dari hari ke hari.
****

Mereka berhadapan. Pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang. Hanya bibirnya yang menyunggingkan senyum lebih sering, sejak ijab kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduanya.

Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh. Bukan saja karena kebahagiaan yang meluap-luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Namun saat terbayang apa yang telah dihadapi Ayyash, dan senyum yang dilihatnya pertama kali begitu cerah. Batin Ayesha urung. Biarlah….nanti-nanti saja, atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia tak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu, terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali.

Dua hari lalu, Ayyash sendiri yang meyampaikan kebenaran berita itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pekan ini dibicarakan dari mulut ke mulut.
“Ayyash mencari istri ?”
“Ia akan menikah secepatnya, akhirnya ”
“Tapi siapa yang akan menerima pernikahan berusia sehari semalam ?”
Percakapan gadis-gadis di lingkungan mereka. Awalnya Ayesha tak mengerti.
“Kenapa sehari semalam ?”, tanyanya pada ammahnya.
“Sebab, lelaki itu sudah menentukan hari kematiannya, Ayesha. Kini tinggal sepekan lagi. Waktunya hampir habis.”

Ayesha ingat ia tiba-tiba menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda. Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom bunuh diri,seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alasan yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah.

“Saya ingin menghadap Allah, yang telah memberi begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaan sudah menyempurnakan separuh agama.
Kalimat panjang lelaki itu, wajahnya yang menunduk, dan rahangnya yang terkatup rapat. Menunggu jawaban darinya.

Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya. Dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan.
“Ya….”jawabannya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. Bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha.

Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung.
Berganti-ganti Ayesha melihat wajah ammah yang basah air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah.

Di depan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena tiga hari, sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. Seorang bidadari dalam perjuangan yang ia hormati, dan kagumi kekuatan mental maupun fisiknya. Ya, Ayesha.

Mereka masih bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang
Wajahnya masih sering bersemu dadu, tampak sangat cantik di mata Ayyash.
Pengantinnya, bidadarinya…..kata-kata itu diulangnya berkali-kali dalam hati. Namun betapapun cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekadkan jauh dalam sanubarinya.
“Ayesha…..saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tak menghormatimu.”
Senyum Ayesha surut. Matanya yang gemintang menatap Ayyas tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah ini, tak akan ada malam-malam lain. Besok selepas waktu dhuha,lelaki itu akan menemukan penggal akhir hidupnya, menemui kekasih sejati.
Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya ?
Bagi ia yang akan menjelang syahid ?

Pendar di mata Ayesha luluh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati istrinya.

“Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, selepas kepergian saya.”

Ayesha tersenyum. Menyembunyikan hatinya yang masih gemuruh. Seandainya ia bisa menceritakannya pada Ayyash. Tapi ia tak sanggup. “Tak apa. Saya mengerti.” Cuma itu yang bisa dikatakannya pada Ayyash.

Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya, malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya.

“Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik.” Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. “Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya ? Ceritakan sesuatu yang saya tak tahu, Ayesha.”

Ayesha menatap mata Ayyash, lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras apa yang bisa ia ceritakan pada lelaki itu ? Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman-teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash. Juga jari-jari tangannya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali.

Betapa ia hampir terjatuh karena kram, akibat duduk terlalu lama, ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi.

Di antara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berpikir tentang lelaki yang duduk di hadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash,dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ayyash,membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagiaan orang lain, bisa membuatnya begitu bahagia ? Tapi inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan sholat malam dan tilawah bersama. Kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umurnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya.

Mereka masih belum bosan menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan.
Saat ia merebahkan diri di dada Ayyash setelah sholat subuh, lelaki itu tak menolak.
“Biarkan saya berbakti padamu, Ayyash”
Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras, sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya.

Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas di depannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya.

Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidur pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan.

***

Ayyash terbangun oleh gedoran di pintu. Pukul setengah tujuh pagi. Kerumunan di depan rumahnya. pagi pertama pernikahan mereka. Ada apa ?
“Ayyash….istrimu, Ayesha.”
Ada titik air meruah di wajah ammah Ayesha. Lalu suara-suara gemang berdengung. Saling meningkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya.
“Setengah jam yang lalu, Ayyash. Ledakan…Ayesha yang melakukannya…”
“Gudang peluru itu. Bunyi…bagaimana kau bisa tak mendengar ?”
Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya…..Ayesha mendahuluinya ?
Kepalan tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaannya,serta upaya Ayesha membahagiakannya semalam. Jadi….Masya Allah !
Istrinya kini….benar-benar bidadari.

Pikiran itu menghapuskan rasa sedih yang sesaat tadi mencoba menguasai hatinya. meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur diri, dari kerumunan di depan rumah.
Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.

Waktunya tinggal sebentar. Tentara Israel pasti akan melakukan patroli kemari, sesegera mungkin, setelah apa yang dilakukan Ayesha. Ia harus segera pergi. Ayyash mempercepat langkahnya. teman-temannya sudah menunggu di dalam jip terbuka yang membawa mereka berempat.

Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Opearsi hari ini rencananya akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel di daerah perbatasan. Memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak digelayuti keraguan, saat diam-diam mereka menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya.

Pikiran bahagianya bicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang meliliti badannya. Ini, untuk perjuangan…

Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata.
Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha.

Rabu, 24 Desember 2008

24 Desember 2006


Tepat 2 tahun lalu, ada peristiwa peting dalam hidup ku.

Bahagia menyelimuti hati ku.
Hari yang selalu ku ingat dalam jiwa.
Hari dimana cinta sejati bersatu
Dilandasi cinta kepada sang pencipta

Ya Alloh, lapangkan lah jalan kami
Berikan barokah mu atas keluarga ku
Jadikan kami menjadi calon penghuni surga Mu
Selamatkan kami dari siksa neraka Mu yang pedih

Jalan kami masih panjang
Masih banyak kesalahan-kesalahan kami
Masih sedikit amal yang kami kumpulkan untuk hari nanti
Ya Alloh, mudahkanlah dalam meniti jalan Mu

Untuk Honey:
Hai sayang... apa kabar, wah kita dah 2 tahun loh jadian.
Masih panjang jalan kita
Maaf jika banyak kesedihan yang kuberikan
Maaf jika belum membuat mu selalu bahagia
Tapi...kita sudah berbahagia kan....
Setelah datangnya Nizar, setelah semua yang kita alami
Ber sama

SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Selasa, 23 Desember 2008

Siapa yang boleh memiliki "bedhil?"




Baru-baru ini lagi rame tentang bolehnya ketua RT/RW boleh memiliki senjata api. Trus saya coba cari info, siapa sih yang sebenarnya boleh memiliki dan menggunakan senjata api.
Dari situs:
http://www.jogja.polri.go.id/index.php?menu=layanan&sub=administrasi&submenu=ijinsenjata

IJIN DIBERIKAN KEPADA

  1. Pejabat Pemerintah
    • Menteri / Ketua / Dirjen / Sek. Kabinet
    • Gubernur / Wa Gub / Sekwilda / Itwilprop / Ketua DPRD I
    • Anggota DPR / MPR Pusat
    • Bupati / Walikota
    • Instansi Pemerintah Gol IV B
  2. Pejabat TNI / POLRI
    • Pati
    • Pamen serendah-rendahnya KOMPOL / Mayor yg mempunyai tugas khusus
  3. Pejabat Bank / Swasta
    • Presiden Direktur
    • Presiden Komisaris
    • Komisaris
    • Direktur Utama
    • Direktur
    • Direktur Keuangan
  4. Purnawirawan ABRI
    • Pangkat terakhir PATI
    • Pamen serendah-rendahnya Mayor / KOMPOL
  5. Profesi
    • Pengacara senior dgn Skep
    • Menteri Kehakiman / Pengadilan
    • Dokter praktek dgn skep dari Menteri Kesehatan / Dep. Kes.

Jumat, 19 Desember 2008

20 Capres Minta Doa

Baru baca berita di dekit news , dan ingin mengomentarinya.
Wah sepertinya negara ini masih lama majunya. Belum jadi pemimpin aja dah tunduk sama mbah Dur. Gimana nanti klo dah jadi presiden...bisa-bisa malah jadi penjilat. Biar tetep langgeng jadi presiden
20 Capres Minta Doa
Gus Dur: Saya Doain, Itu Juga Kalau Saya Nggak Maju Jadi Capres
Nala Edwin - detikNews


Foto: Dok detikcom
Jakarta - Menyandang predikat kiai membuat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selalu dimintai doa. Terlebih saat menjelang Pilpres 2009. Gus Dur mengaku didatangi 20 calon presiden (capres) untuk dimintai doa agar maju dalam Pilpres.

"Sampai saat ini saya sudah didatangi 20 orang capres. Semuanya minta restu dan didoain," kata Gus Dur dalam acara Kongkow Bareng Gus Dur di Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (20/12/2008).

Gus Dur mengaku akan mendoakan para capres yang akan berlaga di Pilpres 2009 mendatang. "Ya ya saya doain. Itu juga kalau saya nggak maju jadi capres," tandas cucu pendiri NU KH Hasyim Asy‘ari ini.

Beberapa capres sudah sering menyambangi Gus Dur di kantornya Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat. Mereka di antaranya Yusril Ihza Mahendra dan Rizal Ramli.

(nik/gah)

Minggu, 14 Desember 2008

enPeWePe...

Hari ini gw dah punya NPWP.
Gara-gara semua orang ribut buat NPWP akhirnya gue juga ter bujuk untuk membuat NPWP. Pertama gue cari inpo gimana cara bikinnya. Dan cara paling mudah dan murah adalah lewat interent. Coba deh buka www.pajak.go.id trus masuk ke menu e-regisration Nah kita tinggal masukin data-data. Klo kesulitan mending konsultasi ke orang pajak di kantor.
Setelah proses isi from selesai, tinggal di pencet tombol "Daftar" maka data kita akan ter simpan di pusat data. Sayangnya, kadang koneksi ke situs pajak sangat lambat. Mungkin karena banyak yang akses. Coba daftar di pagi hari atau malam hari.
Setelah daftar, kita dapat mencetak form tersebut. Coba log out trus login lagi, maka akan tampil menu Perbaharui Data dan Cetak Data. Setelah cetak, kita dapat mengirimkan ke KPP yang bersangkutan yang tertulis di form. Alamat lengkap KPP dapat di cari di situs pajak. Jika KPP dekat dengan tempat tinggal atau kantor, kita juga dapat langsung datang ke KPP sambil membawa form hasil cetak dan copy KTP.
Saya datang ke KPP jam 8.05, saat ini masih sepi. Masuk ke ruangan, trus tanya ke bapak-bapak yang jaga di situ, gimana cara buat NPWP. Ternyata bapak itu yang mengurusi pembuatan NPWP. Saya langsung serahkan form cetakan tersebut dan copy KTP. Nunggu 10 menitan, dan jadi lah kartu NPWP. ^_^
Semuanya gratis, kecuali parkir Rp. 1000
Trus, what next????

Selasa, 09 Desember 2008

libjvm.so: cannot open shared object file: No such file or directory


Ceritanya, ubuntu 7.04 di PC kantor tempat saya kerja tiba-tiba rusak. Gak ada angin atau hujan, tiba-tiba tidak bisa connect ke server-server, dan ketika di restart malah hang. Akhirnya, setelah membackup directory HOME, saya install ulang. Kali ini menggunakan Ubuntu 7.10
Seperti biasanya, kita harus install ulang juga aplikasi-aplikasi yang kita pakai, termasuk postgres. Postgres 8.2 tinggal instal via apt-get install, dan sukses. Nah masalahnya, karena saya pake Adempiere, maka saya juga harus install PL Java di postgres tersebut. Ada banyak tutorial di internet untuk install PL java, termasuk juga di blog ini. Namun tetap saja ada kesulitan.
Setelah mengikuti langkah-langkah, ternyata ada error :

could not load library "/opt/pljava/pljava.so": libjvm.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Padahal cara sudah bener. Akhirnya cari-cari lagi di internet. Ketemu situs:
http://www.nabble.com/org.postgresql.util.PSQLException:-ERROR:-could-not-load-library-%22-opt-pljava-pljava.so%22:-libjvm.so:-cannot-open-shared-object-file:-No-such-file-or-directory-td19792277.html
Di situ di jelaskan, masalah libjvm.so karena path yang tidak dikenali. Pertama cek dulu, pljava.so itu membutuhkan library apa aja.

ldd /opt/pljava/pljava.so

Setelah eksekusi perintah di atas maka akan terlihat

root@MIS02:/opt/pljava# ldd /opt/pljava/pljava.so
linux-gate.so.1 => (0xffffe000)
libjvm.so => not found
libc.so.6 => /lib/tls/i686/cmov/libc.so.6 (0xb7e7a000)
/lib/ld-linux.so.2 (0x80000000)


Untuk itu coba cek
ld.so.conf
Di situ harusnya berisi path untuk java
Saya ganti sesuai dengan lokasi java:

/usr/lib/j2re1.5-sun/bin
/lib:/usr/lib/j2re1.5-sun/lib/i386/
/usr/lib/j2re1.5-sun/lib/i386/client
/usr/lib/j2re1.5-sun/lib/i386/client/native_threads
/usr/lib/j2re1.5-sun/lib/i386/server


Kemudian saya save, dan jalan kan perintah ldconfig
Cek kembai dengan ldd


root@MIS02:/etc# ldd /opt/pljava/pljava.so
linux-gate.so.1 => (0xffffe000)
libjvm.so => /usr/lib/j2re1.5-sun/lib/i386/client/libjvm.so (0xb7731000)
libc.so.6 => /lib/tls/i686/cmov/libc.so.6 (0xb75e7000)
libm.so.6 => /lib/tls/i686/cmov/libm.so.6 (0xb75c1000)
libdl.so.2 => /lib/tls/i686/cmov/libdl.so.2 (0xb75bd000)
libpthread.so.0 => /lib/tls/i686/cmov/libpthread.so.0 (0xb75a5000)
/lib/ld-linux.so.2 (0x80000000)


Ternyata sudah ok. Selanjutnya kita lakukan proses install


postgres@MIS02:/opt/pljava$ psql <>