Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 25 September 2008

Cerita sadis di Jawa Pos

Gue memang agak tidak kuat jika melihat darah. "Agak", karena sebenarnya gw masih kuat untuk lihat adegan-adegan yang menampilkan kekerasan, seperti di film Rambo IV, atau Hanibaal Rising. Tapi ada hal-hal tertentu dimana gw gak akan kuat untuk nontonnya dengan tangan. Contoh film tentang kanibal (gak tau asli apa gak) ato video pembataian di Sampit. Tapi semua itu kan suatu gambar yang bergerak sehingga lagsung kontak dengan mata.
Tapi hari ini ada sebuah tulisan, bukan novel ataupun cerpen. Sebuah berita di Jawa Pos yang bikin gw agak mual, seperti ketika melihat video sadis. Berita tentang pembunuhan juragan Sari Roti di surabaya.
Rasakan sendiri sensasinya:
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=26296

[ Jum'at, 26 September 2008 ]
Suami Habisi Istri dan Dua Anaknya, lalu Bunuh Diri
SURABAYA - Seminggu menjelang Lebaran, polisi dibuat bekerja ekstrakeras. Ini setelah kemarin pagi satu keluarga penuh (sepasang suami-istri berikut dua anak balita) ditemukan tewas terbunuh di kamar rumah mereka sendiri di Jalan Ngagel Jaya 82, Surabaya.

Kali pertama yang menemukan pembunuhan sadis itu adalah Buriah, salah seorang pembantu di sana. Ketika itu, Buriah -dan pembantu-pembantu lain- heran karena hingga hari terang, sekitar pukul 05.30, sang majikan belum bangun. ''Padahal, biasanya pukul 04.30 sudah bangun,'' kata Siti Humaiyah, seorang baby sitter di rumah itu.

Karena penasaran, Buriah mencoba melongok ke dalam jendela kamar. Baru saja menyingkap gorden jendela, Buriah berteriak histeris dan menangis. Butuh waktu beberapa menit sebelum Buriah mengatakan bahwa dirinya melihat Yanuar Stefanus, 37, nama majikan prianya, tergeletak bersimbah darah.

Buru-buru sejumlah pembantu dan karyawan di situ langsung menghubungi polisi -yang kemudian segera datang. Aparat berbaju cokelat harus mendobrak dulu pintu kamar. ''Teralis jendela dan pintu terkunci dari dalam,'' kata seorang petugas yang ikut menangani kasus tersebut.

Setelah pintu terbuka, pemandangan yang terlihat sungguh menyayat hati. Empat mayat tergeletak bersimbah darah. Yanuar Stefanus, sang juragan dan pemilik rumah, tergeletak di bagian paling barat kasur dengan celana pendek dan kaus hitam. Di pergelangan tangan kiri terdapat dua luka sayat, luka tusuk di perut hingga usus terburai, dan dua luka sayat di leher. Sebilah pisau kecil tergeletak di atas perut Yanuar dan sebilah pisau daging tergeletak menempel di paha pria yang sehari-hari bekerja di pabrik kopi Kapal Api itu.

Persis di samping kanannya tergeletak Yonatan Jansen Sutanto, anak pertama Yanuar yang masih berusia lima tahun. Lehernya terkoyak karena digorok. Di sebelah kanannya lagi tergeletak dalam keadaan tertelungkup Christephen Kevin Sutanto, si bungsu yang berusia tiga tahun. Seperti kakaknya, lehernya menganga setelah digorok. Namun, lukanya lebih lebar dan sebagian tulang lehernya agak rompal.

Sementara Seniwati, istrinya, 36, telentang di sisi berlawanan dengan posisi tidur Yanuar dan kedua anaknya. Lehernya juga tergorok. Tapi, di pipi dan dadanya ada banyak luka gores akibat sayatan benda tajam. Selain itu, di mulutnya ada lebam dan sedikit luka. Saat ditemukan, Seniwati mengenakan baju tidur bermotif batik.

Di tembok kamar maut itu terdapat sebuah tulisan darah. Diduga kuat penulisnya Yanuar. Bunyinya, "Aku diakalin oleh orang saja". Entah apa maksud tulisan tersebut. Petugas masih belum mengetahuinya.

Dari hasil olah TKP (tempat kejadian perkara), petugas menduga tidak ada barang hilang dari rumah itu. ''Selain karena pintu kamar terkunci dari dalam dan ada tumpukan uang yang masih utuh,'' kata Kapolres Surabaya Timur AKBP Eko Iswantono. Berdasar fakta itu, polisi mengesampingkan motif perampokan dalam kejadian tersebut.

Penyelidikan menjadi agak terang setelah Bid Dokkes Polda Jatim dan tim Labfor (Laboratorium Forensik) Cabang Surabaya melakukan penyelidikan. Hasilnya, diduga kuat bahwa yang terakhir tewas adalah kepala keluarga, Yanuar. ''Ini dilihat dari lukanya. Yanuar menderita tiga luka. Kalau dia mati duluan, pasti posisi mayat tak seperti itu,'' urai sebuah sumber di kepolisian.

Itulah yang memunculkan dugaan kalau Yanuar menghabisi anak dan istrinya terlebih dahulu, baru kemudian bunuh diri. ''Dengan kondisi TKP seperti itu (terkunci dari dalam dan tak ada barang hilang), kemungkinan paling besar adalah seperti itu (Yanuar membunuh sebelum akhirnya bunuh diri, Red),'' paparnya.

Apalagi, di jempol kaki kanan Yanuar ada sobekan kertas koran dan di bawah ada kertas koran yang menjadi pasangan sobekan tersebut. Ada bercak darah pula di kertas koran itu. ''Ini menunjukkan kalau Yanuar berjalan-jalan pada saat pembunuhan itu. Dugaannya, siapa lagi yang berjalan pada saat pembunuhan selain si pembunuh,'' urainya.

Siti Humaiyah, baby sitter keluarga, mengungkapkan, sebagai agen Sari Roti, Seniwati mempunyai 11 karyawan yang selalu berkeliling. Plus, satu karyawati yang mengurusi pembayaran. Total orang luar -selain keluarga pasangan Yanuar- yang menginap di situ ada sebelas. Yakni, delapan pedagang keliling, satu pembantu, satu baby sitter, dan satu karyawati bagian keuangan. Baby sitter menginap di kamar depan, berdekatan dengan kamar anak. Pembantu menginap di belakang. Sedangkan delapan pedagang keliling tidur di sembarang tempat. ''Kadang tidurnya ya di dapur. wWis pokoke sembarang,'' kata Humaiyah.

Dari fakta-fakta tersebut, polisi kemudian merekonstruksi dugaan apa yang terjadi pada malamnya. Dari analisis polisi, yang pertama dibunuh Yanuar adalah Seniwati. ''Secara logika, tentu saja yang dibunuh pertama tentu yang dewasa. Kalau yang kecil dulu, pasti yang dewasa terbangun dan ada perlawanan berat,'' kata Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Bambang Suparno.

Polisi menduga bahwa Yanuar membekap istrinya dengan bantal, sebelum menggoroknya dengan pisau kecil yang tajam. Ini bisa dilihat dari lebam dan luka di mulut (karena dibekap) dan luka-luka di pipi dan dada (karena meronta-ronta melawan).

Setelah Seniwati "dibereskan", giliran si bungsu Christephen. Sadisnya, Christephen dieksekusi dalam kondisi masih tidur tertelungkup. Dengan dingin Yanuar sempat mengganti pisau kecilnya (yang baru dipakai untuk mengeksekusi Seniwati) dengan pisau dapur besar.

Tanpa banyak babibu, Yanuar membacokkan pisau besar itu ke leher mungil Kevin. ''Saking kerasnya, semua urat putus dan tulang lehernya sampai sedikit rompal,'' kata orang nomor satu di jajaran kepolisian Surabaya itu.

Selanjutnya, Yanuar berjalan ke arah Yonatan, putra sulungnya, yang juga diduga masih tertidur. Leher bagian kanan Yonatan pun digoroknya.

Setelah itu Yanuar memutuskan menghabisi dirinya sendiri. Tidak seperti saat membantai keluarganya yang berlangsung cepat, Yanuar diduga kesulitan menghabisi nyawanya sendiri. Pertama, dia mencoba menyayat pergelangan tangan kirinya. Mungkin, karena takut, Yanuar menghentikan usaha itu. Dia lantas menusuk dadanya dua kali. Lagi-lagi, diduga karena takut, dia tak sanggup menusukkannya begitu dalam. Selanjutnya, dengan mengeraskan tekad, dia menusuk perutnya sendiri hingga ususnya terburai. Namun, tetap saja itu belum mematikannya.

Karena kesakitan, Yanuar sempat berhenti sebentar. Diduga Yanuar kemudian menuliskan kata-kata, "aku diakalin orang saja", dengan darahnya sendiri di tembok. Setelah itu, dia menggorok lehernya sendiri.

Pada gorokan pertama, Yanuar tetap belum juga tewas. Untuk mengakhiri penderitaannya, dia sekali lagi menggorok lehernya. Tak lama kemudian Yanuar tewas.

Apakah urutan kejadian itu sudah menjadi kesimpulan final? Kapolwil mengatakan itu masih dugaan sementara. ''Kalau ada bukti baru lagi, tentu saja arah penyelidikan kami berubah,'' urai lulusan Akpol 1980 tersebut.

Hanya, keterangan sejumlah saksi justru menguatkan dugaan sementara polisi. Menurut seorang karyawan laki-laki yang tidur persis di lantai sebelah kamar tersebut, sekitar pukul 00.00 Yanuar keluar. Setelah itu dia mondar-mandir seperti gelisah, sebelum kemudian masuk kamar lagi.(ano/aga)

Minggu, 21 September 2008

Kenangan gak penting

Lagi cari video tentang ulang tahun di You Tube, eh ketemu video ini

Buat saya video ini memeliki kenangan yang...gak begitu indah sih, cuma ya tetap ingat aja. Waktu itu di Makassar, gue and temen-temen ngikuti acara yang diadakan oleh SoeRabaya Consulting Group, yang dipimpin pak Arif. Di acara itu, seluruh peserta diwajibkan mengikti gerakan di video itu. Cukup membuat terhibur, walau pun sebenarnya tidak ada hubungannya dengan acara utama. Dan bayangkan, gerakan bodoh itu dilakukan pula oleh orang-orang yang memiliki harta dan jabatan, misalnya pak Hendy pemilik Kebab Turki.
http://www.babarafi.com/.

Mungkin saat ini mereka menyesal melakukan hal bodoh itu. Heheheh.

Kamis, 04 September 2008

Dagelan hukum

Berita di kompas Selasa, 01 Juli 2003:
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0307/01/utama/402108.htm

Amrozi Dituntut Hukuman Mati

Denpasar, Kompas - Menjelang ulang tahunnya yang ke-41 pada 5 Juli mendatang, Amrozi bin H Nurhasyim mendapat hadiah pahit di persidangan di Aula Gedung Wanita Nari Graha Renon, Denpasar, Bali, Senin (30/6). Dalam berkas tuntutan setebal 269 halaman, Jaksa Penuntut Umum Urip Tri Gunawan meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana mati bagi terdakwa perkara peledakan bom di Bali tersebut.

Setelah melewati 12 kali persidangan sejak 12 Mei 2003 dan mendengar keterangan 55 saksi serta membaca kesimpulan tiga berkas pemeriksaan acara (BAP) dari tiga terdakwa lain, tim jaksa berpendapat, terdakwa dari Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, ini secara sah dan meyakinkan bersalah atas tindak pidana terorisme peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002.

"Kami, jaksa penuntut umum dalam perkara ini, dengan memperhatikan ketetapan perundang-undangan yang bersangkutan, menuntut supaya majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Amrozi bin H Nurhasyim dengan pidana mati," ujar Urip, kemarin petang. Sidang pembacaan tuntutan ini berlangsung lebih dari tujuh jam, dimulai pukul 09.05 dan berakhir pukul 16.55.

Lima tahun kemudian tepatnya Kamis, 4 September 2008
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/04/12183236/urip.divonis.20.tahun.penjara.dan.denda.rp.500.juta

Urip Divonis 20 Tahun Penjara dan Denda Rp 500 Juta

JAKARTA, KAMIS — Terdakwa kasus dugaan suap jaksa, Urip Tri Gunawan, divonis 20 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

Urip terbukti menerima suap 660.000 dollar AS dari kerabat bos Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Artalyta Suryani, dan memeras mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Glenn Jusuf.

"Menyatakan terdakwa Urip Tri Gunawan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melanggar Pasal 12 huruf b dan e UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20/2001. Oleh karenanya, menjatuhkan hukuman penjara selama 20 tahun dan denda Rp 500 juta," ujar Ketua Majelis Hakim Teguh Haryanto sebelum mengetuk palu di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (4/9).

Hhihihih lucu lucu. Klo gitu waktu nuntut dulu harusnya gak sah. Wong ternyata dia tidak memiliki jiwa yang sehat, ternyata berjiwa penjahat. Tanya ken apaa......

Rabu, 03 September 2008

Komentar atas Tehnik Kepemimpinan Jawa dalam Pribadi Barack Obama

Pada salah satu milis yang saya ikuti, ada kiriman artikel dengan judul Tehnik Kepemimpinan Jawa dalam Pribadi Barack Obama.
Ada beberapa yang menggelitik hati saya untuk mengomentarinya. Namun karena milis tersebut bukan milis politik, maka lebih baik saya mengomentarinya di blog saya sendiri.

Tehnik Kepemimpinan Jawa dalam Pribadi Barack Obama

Ditulis oleh: Vincent Liong dan Anton Widjojo
Tempat, Hari & Tanggal: Jakarta, Kamis, 4 September 2008

Dalam budaya Jawa, pemimpin itu adalah karena suratan nasib, dan didukung oleh orang-orang yang ingin dipimpin oleh dirinya. Seorang pemimpin dari dalam lubuk hatinya tidak pernah ingin dan merasa layak untuk menjadi pemimpin. Bahkan untuk menghindari bahwa ia diharuskan memimpin, ia akan menceritakan segala kekurangannya, keterbatasannya, dengan harapan tidak dituntut untuk memimpin. Bilamana masyarakat tetap berkehendak agar dia yang memimpin, maka ia akan meminta bantuan dari rakyat agar dirinya dapat memimpin dengan benar.

Dalam kasus calon presiden Amerika yang bernama Barack Obama, yang pernah mengalami sebagian masa kecil di Jakarta dan memiliki ayah tiri yang adalah orang Indonesia; tampak sekali pengaruh pola kepemimpinan budaya Jawa.

Bila dijabarkan lebih jauh, point-pointnya sbb:

* Kedaulatan Rakyat; Dalam sistem ini bagaimana rakyat itu mendaulatkan kekuasaan kepada pemimpin dengan rasa percaya, rasa kerjasama dan kompromi. Sehingga pemimpin itu bisa membawa negara bersama-sama rakyat, untuk bergerak secara terorganisasi demi mencapai cita-cita bersama.
Setuju, ini penting. Rakyat menyerahkan kekuasaan pada pemimpin dengan rasa percaya. Kompromi? Perlu sebuah ketegasan agar sesuatunya bisa berjalan.

* Pemimpin itu tidak perlu menonjolkan ambisi dan kelebihannya walaupun dirinya memiliki sekian banyak kelebihan. Melainkan hanya menjalankan keinginan rakyat bukan keinginannya
sendiri.
Sepertinya ini sebuah kesalahan. Seorang pemimpin hanya menjalankan keinginan rakyat? Jadi pemimpin itu = boneka. Bukankah arti pemimpin adalah orang yang memimpin, yang mengarahkan, yang mengantur. Di sebuah perusahaan apakah seorang pemimpin (Direktur) menjalankan usahanya atas keinginan para karyawan? Tentu tidak. Pemimpin harusnya memiliki kemampuan di atas rata-rata rakyatnya. Dia harusnya bisa berpikir selangkah lebih maju dari rakyat-rakyatnya. Seandainya di sebuah tempat mayoritas rakyatnya bodoh, bukankan tugas seorang pemimpin untuk membuat rakyatnya pintar? Masa dia menuruti kata-kata bodoh dari rakyat yang bodoh?

* Tanggungjawab kemajuan dan keutuhan negara bukan sekedar tanggungjawab pemimpin, melainkan tanggungjawab bersama; pemimpin dan masyarakatnya.
Tentu saja tanggung jawab kemajuan dan keutuhan adalah tanggung jawab pemimpin. Jika sebuah negara menjadi turun derajatnya, maka yang paling patut disalahkan adalah pemimpinnya. Jika memang dia memiliki arah jelas dapam membangun suatu negara, kenapa tidak dijalankan? Jika alasannya karena rakyat tidak mau menjalankan, itu juga merupakan kesalahan seorang pimimping. Tidak dapat mengendalikan rakyat!!!

* Pemimpin juga ikut mengajak rakyat untuk memikirkan bagaimana sulitnya mengambil suatu kebijaksanaan, sehingga dengan cara demikian tidak akan pernah ada janji-janji kosong.
Harusnya tidak pernah ada janji-janji kosong! Karena jika hanya bisa maju memimpin jika memang sifatnya mulia. Bukan pembohong

* Pemimpin memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memberikan ide, input; untuk pembaharuan demi kemajuan bersama. Sehingga lebih cepat terjadi pembaharuan.
Untuk itu harus berpihak pada rakyat, dan tentu merakyat. Bantu lah rakyat maka rakyat akan membantu mu.

* Pemimpin bisa memberikan kepada rakyatnya suatu pengharapan akan masa depan yang lebih baik, dengan adanya pengharapan maka semangat orang akan terbangun.
Makanya pemimpin harus memiliki inisiatif dalam bertidak, bukah hanya mengikuti kemauan rakyat!

Sistem ini membuat perjalanan seorang pemimpin dalam memimpin negara menjadi lebih mudah, persatuan kesatuan, rasa kebersamaan dan tanggungjawab dipikul bersama sehingga tidak ada saling menyalahkan lagi. Semangat berjuang membangun untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.
Perlu dibuat suatu sistem yang dapat menyatukan seluruh rakyat. Sistem kompromi berlebihan terhadap rakyat akan menjerumuskan negara ini. Sistem ini menjadikan negara tidak akan maju, karena semuanya harus di kompromikan pada rakyat. Pemimpin harus tegas dalam menjalankan keputusan yang telah dibuatnya, walau itu menyakitkan rakyat. Jika nantinya menjadi rakyat yang lebih baik dan beradab mengapa tidak? Seperti pahitnya obat untuk kesembuhan.
Harusnya kita kembali pada tujuan awal kemerdekaan ini. Yaitu Pancasila. Sebuah negara yang berdasarkan pada Tuhan, pada Agama. Bukan negara sekular. Mana ada agama yang memperbolehkan pelacuran? Perjudian? dll. Tapi nyatanya masih bisa kita saksikan dengan mudah.
Dengan pancasila negara menjadi negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Harusnya tidak ada lagi demo-demo buruh, karena buruh dianggap sebagai rekan kerja, bukan sebagai budak. Tidak adalagi kelaparan, karena negara akan mengeluarkan peraturan yang mengharuskan orang yang mempunyai harta lebih untuk membagi kepada orang yang tidak mampu.
Negara adalah negara yang bersatu, bukan hanya kumpul jadi satu. Tetapi bersatu. Tidak adalagi penjilat-penjilat atas kepetingan asing.
Negara juga menggunakan azaz musyawarah untuk mufakat, bukan mekanisme voting. Voting adalah representasi suara mayoritas, tetapi belum tentu suara yang benar. Dengan musyawarah, maka dapat dilakukan suatu tukar pikiran, dimana yang salah di benarkan, bukan sebaliknya yang benar kalah dengan mayoritas yang salah.
Terkahir, negara menjamin adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Tidak ada lagi rasisme di segala bidang termasuk pekerjaan. Tidak ada lagi pelecehan terhadap orang-orang kecil oleh para hartawan. Tidak ada lagi gap antara perbedaan suku.