Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 22 Maret 2009

33 Propinsi

Pagi-pagi berangkat ke kantor, di jalan ngelamun. Ingat masa kecil waktu es de. Trus ingat juga ada buku namanya RPUL, trus mecoba mengingat-ingat daftar provinsi di Indonesia. Loh koq lupa hahahaha, apalagi sekarang provinsi dah tambah banyak ga kayak dulu yang 27 provinsi. Akhirnya penasaran dan bertekad "Nanti setelah di kantor mau cari list provinsi di Indonesia"



Sekarang jumlah provinsi adalah 33:
Sumatra: Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Kepulauan Riau, Bambel
Jawa: DKI, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim
Bali: Bali
Kalimantan: Kalbar, Kalteng (ah), KalSel, Kaltim
Sulawesi: Sulsel, Sulbar, Sultra, Sulteng, Gorontalo, Sulut
Maluku: Maluku, Maluku Utara
NTB: NTB
NTT: NTT
Papua: Irian Jaya Barat, Papua




Selasa, 17 Maret 2009

Besi Konstruksi Jembatan Suramadu Dicuri

Pas tadi pagi beli susu sapi, sekilas lihat berita di jawapos. Judulnya: Besi Konstruksi Jembatan Suramadu Dicuri
Wah kaget juga, padahal selama ini jadi guyonan di masyarakat. "Jembatan suramadu bakal ga selesai-selesai. Gimana mo selesai wong besinya di colongi sama orang madura..hahahah".
Segitu parahkan para pencuri besi itu. Mereka tidak pernah memikirkan akibatnya. Demi uang untuk perut mereka sendiri.

Berita lengkapnya:
Besi Konstruksi Jembatan Suramadu Dicuri
Selama Enam Bulan, Terkumpul Empat Ton

SURABAYA - Molornya pembangunan Jembatan Suramadu diduga tidak hanya karena faktor pendanaan. Ada juga faktor lain yang cukup mengganggu, yakni pencurian besi konstruksi jembatan dalam jumlah besar yang telah berlangsung selama enam bulan. Meski hanya dianggap sebagai kendala teknis, aksi pencurian itu tetap saja berpotensi menambah molor penyelesaian proyek.

Pencurian besi konstruksi Jembatan Suramadu itu terungkap setelah petugas jajaran Polres Surabaya Timur menciduk empat tersangka yang biasa menyaru sebagai nelayan saat beraksi. Mereka adalah Bambang Harianto, 31, Budiono, 32, M. Fadil, 18, dan Muin, 42. Keempatnya merupakan warga Jalan Bulak Cumpat, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Yang cukup mengejutkan polisi, komplotan pelaku itu bisa mencuri besi konstruksi sebanyak empat ton.

Berdasar penyidikan polisi, pencurian itu dilakukan para tersangka pada pagi hari. Biasanya, mereka berangkat ke dekat konstruksi Jembatan Suramadu menggunakan perahu nelayan. Sasaran mereka adalah besi konstruksi di bentang tengah jembatan yang belum terpasang. "Bagian jembatan yang lain kan relatif sudah selesai. Makanya, sasaran komplotan itu adalah bahan konstruksi bentang tengah yang sedang dikerjakan," tutur salah satu polisi yang ikut menangani kasus tersebut.

Dia menjelaskan, para pelaku sengaja mencari besi konstruksi yang belum dipasang. Caranya, mereka mendekati kapal tongkang milik pelaksana proyek yang biasanya membawa besi konstruksi ke dekat bentang tengah. Besi itu mereka ambil satu per satu dan dibawa dengan kapal nelayan. Sesampainya di pantai, besi itu dipotong menjadi lebih kecil. "Besi penyangga utama yang mereka curi itu panjangnya mencapai 10 meter. Agar bisa dibawa dengan truk, besi itu dipotong menjadi lebih kecil," terang petugas itu.

Sementara itu, para tersangka juga punya versi lain tentang besi yang mereka curi. Pada pemeriksaan awal mereka mengatakan bahwa yang mereka curi adalah besi sisa konstruksi. "Mereka mengangkat besi yang sudah dijatuhkan ke dasar laut dengan menggunakan magnet. Biasanya, aksi mereka lakukan sekitar pukul 05.00 pagi," kata Kasatreskrim Polres Surabaya Timur AKP Hartoyo yang mendampingi Kapolres AKBP Samudi kemarin. Selain menggunakan magnet, tersangka juga mengaku mengambil besi-besi di dasar laut itu dengan cara menyelam.

Kepada penyidik, para tersangka juga mengaku berprofesi sebagai nelayan. Karena sering tidak dapat ikan, mereka akhirnya memilih mengambil besi-besi tersebut dari dasar laut.

"Kami tidak pernah mendapatkan ikan. Gimana lagi," ucap Budiono, salah satu tersangka.

Bambang Hariyanto, tersangka lain, mengaku tidak tahu jika besi-besi tersebut masih digunakan untuk proyek jembatan. "Saya pikir sudah tidak dipakai. Wong

Namun, sejumlah keterangan tersebut tidak begitu saja membuat polisi percaya. Sebab, jika dilihat dari modus yang mereka gunakan saat mengambil besi, ditambah jumlah barang bukti yang mencapai 4 ton, sudah dapat dipastikan bahwa mereka adalah komplotan spesialis pencuri besi. Apalagi, sudah ada informasi dari internal pelaksana proyek jembatan yang menyebutkan bahwa yang dicuri adalah besi-besi penyangga utama jembatan.
sudah dibuang ke laut," katanya.

Senin, 16 Maret 2009

Nonton Quarantine

Quarantine? Apa ya? Bagi teknisi-teknisi komputer pasti teringat sama antivirus. "Move to quarantine" ^_^ Bukan boi, yang gue bicarain sekarang adalah judul pelem. Dibintangi oleh Jennifer Carpenter. Sapa lagi dia tuh? Klo pernah nonton film White Chick pasti tau siapa dia, wahahahaah. Ketawa klo ingat adegan nangis nya di film White Chick.

Adegan Quarantine


Adegan White Chick

Dalam film quarantine, ada satu hal yang unik. Yaitu sepanjang film, kamera yang digunakan hanya satu. Jadinya nonton film ini seperti nonton adegan nguber penjahat di acara Buser. Baru kali ini juga saya lihat film dengan teknik sinematografi seperti ini. Aneh. Bikin pusing. Dan yang mengecewakan kualias gambarnya kualitas film televisi...

Oh ya baru ingat, ada film lain dengan model seperti ini, yaitu film tentang suku kanibal. Yang semi dokumenter itu, judulnya Cannibal Holocaust.


Film ini bercerita tentang peliputan dunia pemadam kebakaran. Ya bayangkanlah seperti acara si Bolang. Cuma bedanya di si Bolang kamera yang digunakan masih lebih dari 1 buah. Mungkini 15 menit atau 30 menit pertama benar-benar membosankan. Sumpah deh, bosen banget! Saat ini saya menebak-nebak arah film ini. Adegan yang ditampilkan cuma perkenalan alat-alat pemadam kebakaran, perkenalan dengan anggota dan cerita-cerita ringan banget.

Kemudian setelah itu baru mulai adegan agak tegang. Ada panggilan untuk pemadam kebakaran. Kita akan di ajak menuju sebuah apartemen tua. Penghuninya (yang memanggil pemadam) mengatakan bahwa ada suara teriakan di lantai atas. Oh ya, ada hal unik lain. Di film ini tidak ada background music atau sound effect yang bikin kaget seperti di film-film horor biasanya.

Kembali ke cerita, kemudian petugas pemadam dan polisi menuju ke lantai asal teriakan. Ternyata ada seorang wanita tua yang terlihat sakit. Wanita ini berbusa mulutnya. Dia diam saja sambil menggerang. Saat itu mulai deh kita mulai deg-deg an. Eh tiba-tiba wanita itu menyerang salah satu anggota polisi. Digigitnya lehernya.

Setelah kejadian itu, tiba-tiba pintu apartement di kunci dari luar. Semua pintu di jaga tentara bersenjata lengkap. Tidak ada satu pun orang yang boleh keluar dari apartement. Ya apartement itu di karantina...seperti judul pelem ini. Belum orang-orang mengerti apa yang terjadi, sebuah mayat jatuh dari lantai atas.

Kondisi juga sama, dengan leher terkoyak. Film yang tadinya tenang berubah menjadi tegang. Penonton disuguhi adegan-adegan mengagetkan. Di salah satu scene, baru di ketahui ternyata penyebab peristiwa ini adalah Rabies. Tapi bukan rabies biasa, karena penularannya sangat cepat. Hmm...film ini cocok di putar di daerah epidemi Rabies seperti Bali. Ya itung-itung sebagai bagian kampanye anti rabies :P

Yah seperti film-film sejenis lainnya, satu-per satu penghuni apartemen tergigit sehingga tertular rabies. Mereka yang terkena rabies menjadi zombie yang lapar. Akhirnya tinggal dua orang yaitu sang reporter dan kamerawannya. Di bagian akhir, di tunjukkan melalui potongan-potongan kliping koran, bahwa peristiwa ini bukan tidak disengaja. Tetapi karena ada sebuah aliran sesat (mungkin Ahmadiyah hahahah) mencuri senjata biologi. Oalah...gitu to

Kemudian terror berlanjut, sang kamerawan pun tewas diterkam zombie-zombie itu. Kamera jatuh. Tetapi untung jatuhnya pas sehingga tidak rusak dan tetap dapat mengambil gambar yang pas. Coba kamera rusak atau arah ambilan gambarnya salah, jadinya bioskop cuma nampilin hitam tok donk :P

Dengan kamera di lantai di tampilkan adegan terakhir. Sang reporter merayap mendekati kamera, namun tertarik ke belakang. Ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat... Hiiiiiiiiiiiiii

Yah..gitu aja ceritanya. That is all. Jangan mengharap ada efek-efek hebat. Yang ada dapat hanya efek menggigit leher, orang jatuh dan tembakan. Mungkin sang sutradara memilih menggunakan teknik pengambilan gambar seperti ini karena ingin membuat penonton serasa melihat adegan nyata.

Senin, 02 Maret 2009

Jalan-jalan sama Nizar

Hmmm, Nizar dah gede. Sudah saatnya dia mengenal dunia luar lebih luas lagi. Sudah saat nya jalan-jalan sama nizar ^_^ Untuk pemanasan, kemarin kita jalan-jalan ke mall-mall sekalian liat harga susu. Pertama sih ngajakin Nizar (Ibu nya sih.... ^_^) makan-makan. Istilahnya gue traktir deh. Dulu dia minta sih waktu palentin (sory bro, gue ga ngerayain koq, cuma gara-gara moment itu bini jadi pingin di traktir), untuk ditraktir pizza. Ya udah deh mumpung gajian, kita abis-abisin aja tuh duit hahahah. Jadi lah kita kembali ke bakul pizza yang dulu. Coba baca lagi: Sensasinya Sensasi Delight ber dua di Delta Plaza. Karena peristiwa 11 bulan yang lalu itu, saya kali ini lebih "berhati-hati" dalam memesan. Sambil menunggu pizza, datang hidangan awal berupa roti. Loh! Koq kecil. Masa saya bertambah besar sehingga roti yang dulu saya anggap besar sekarang menjadi kecil. Hahaha, apa gara-gara harga minya turun.....loh :P
Gak berselang lama, datang lah si pizza. Wahahhah, ternyata ukurannya menyusut juga. Sekarang koq pizza nya seperti pizza-pizza an ya...yang di jual di SD-SD itu. Bener-bener sadis krisis yang terjadi...bikin pizza jadi mini.


Dah "kenyang" makan di pizza, sekarang saatnya cari Dodo (susu...dalam bahasa Nizar pas usia 1 th). Pertama cari di Giant, yang katanya murah. Wah emang murah, tapi harus belanja 100rb dulu (ga termasuk susu loh). Hmmm...mo belanja apa? Klo harga normalnya malah lebih mahal. Ya udah kita putuskan ke Carefour. Sebelum keluar, kita ngelewati arena bermain, wah Nizar kayaknya semangat banget ^_^ kasian klo ga naik, ya udah kita ajakin naik perahu-perahuan. Eh waktu udahan, dia ga mau turun...heheheh


Keluar dari Giant, pertama sih kita niat ke karpur BG Junction, tapi pas lewat daerah AJBS baru ingat, ada karpur di situ. Sekalian deh kita coba. Hehehe. Ternyata harganya ga terlalu murah juga, cuma lebih murah sih dari harga normal di Giant. Ya udah deh kita belanja disitu. Di karpur situ kita leweti tempat menyewakan mobil remote yang dinaikin. Wah Nizar melirik aja...hahaha. Kasian deh klo ga dituruti...akhirnya:


Pulang-pulang tinggal capeknya aja...