Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Cari Blog Ini

03 Desember 2007

Hari 1: Bingung

Kami berangkat pada tanggal 25 November 2007, menggunakan pesawat Value Air, dari Juanda-Surabaya ke Changi-Singapore. Pesawat berangkat pukul 2:30, namun kami harus datang dua jam sebelumnya. Di Juanda, kami langsung ke terminal keberangkatan Internasional, dan kami langsung check-in. Saya sendiri membawa empat buah tas: koper, back-pack, tas laptop, dan tas pinggang. Dua tas saya taruh di bagasi. Kemudian, saya membayar Fiscal sebesar 1jt!! Mahal sekali ya. Padahal pesawatnya ga sampe segitu. Bener-bener di palakin kita sama pemerintah. Kita kemudian naik ke lantai dua bandara Juanda-Surabaya, membayar airport tax sebesar 150.000 (jika domestik hanya 25.000), dan menunggu hingga jam dua hingga loket dibuka. Petugas airport tax bilang bukanya jam 1:30, tetapi udah jam 1:45 koq belum buka? Tanya Ken Apa??
Setelah masuk loket airport tax, kami menuju bagian imigrasi. Saya antri di loket tengah di belakang teman saya. Saat teman saya maju ternyata kartu keberangkatan yang warna hijau harus di isi. Wah akhirnya kami mengisinya di meja yang tersedia. Ngantri lagi deh. Kali ini saya memilih di loket paling kanan karena orangnya lumayan ramah. Saat maju ke loket, kami harus mengisi form kedatangan! Balik lagi kami ke meja pengisian, dan mengantri lagi, dan kali ini selesai.
Baru sadar saya, klo hari ini belum makan sama sekali. Seingat saya di Juanda ada Roti Boy, saya tanya ke petugas ternyata itu ada di terminal domestik. Waduh! Klo di terminal Internasional cuma ada cafe atau resto mahal. Terpaksa deh saya beli Green tea sosro. Tau ga harganya? 15.000 bro!! Padahal di luar hanya 4000! Pemerasan terselubung!
Pesawat kami terbang sesuai jadwal, maka kami akan tiba pada pukul 18:45 waktu Singapore. Ada perbedaan waktu 1 jam antara Singapore dan Surabaya, dimana waktu Singapore lebih cepat 1 jam. Tidak ada hambatan selama penerbangan, kami mendapat jatah makan berupa nasi telur. Kondisi pesawat airbus 320 ValueAir sangat lebih baik jika dibanding pesawat-pesawat maskapai lokal seperti Lion Air. Namun jika dibanding Garuda, tetap lebih bagus pesawat Boeing milik garuda, ini secara tampilan loh, tidak tau jika masalah mesin dan lainnya.

Saat kami tiba, cuaca sedang mendung, hujan rintik-rintik, namun tidak mengganggu pendaratan pesawat, walau saat mendarat terasa cukup keras mengingat value air adalah maskapai asing. Namun semuanya tak terpikir lagi setelah melihat kemewahan Changi Airport. Dengan memiliki dua runway (untuk tinggal landas dan mendarat), bandara ini memang pantas jika disebut bandara terbaik. Semuanya serba bersih (pasti lah!). Di Changi ini pula saya mengetahui bahwa Air Ledeng Singapore dapat langsung di minum. Selain itu, toilet nya serba otomatis. Kita tidak perlu memutar atau menekan tombol apa pun untuk menyiram air. Kran air memiliki sensor sehingga kita tinggal menaruh tangan kita dibawah kran untuk mendapatkan air. Wah buat saya ini hal yang hebat, dan ternyata semua toilet umum di Singapore menggunakan sistem itu!




























Dari airport ke hotel kami menumpang taxi. Dari luar, tampilan taxi tidak terlalu bagus, namun di dalam ternyata cukup nyaman. Tidak ada aroma-aroma rokok atau bau lainnya. Di dashboard ada layar monitor yang saya tidak tau fungsinya, kemudian juga ada alat seperti alat milik DHL, yang digunakan untuk menangkap singnal ERP (Electronic Road Pricing)
















Jarak antara airport dan hotel sekitar 30 menit. Tidak ada kemacetan yang menghambat. Semuanya lancar dan teratur. Biayanya S$20 Hotel yang kami tinggali, York Hotel, berada di dekat rumah sakit Mt Elizabet, kira-kira 5 menit jika menuju daerah Orchad. Saya dan rekan mendapat kamar no 1116. Lokasi yang bagus, di lantai 11. أستغفر الله, ternyata tas backpack saya tertinggal di bandara!!! Bercampur aduk persaan saya, antara takut, jengkel pada diri sendiri, sedih. Namun saya mencoba tenang. Saya bilang ke bos bahwa tas saya ketinggalan. Tampak raut muka agak tidak enak. Memang sih isinya gak terlalu berharaga. Hanya sepatu. Tas itu sendiri berharga 200rb sedang sepatu hanya 100ribu. Jika saat itu saya langsung mengambil di bandara, maka saya harus mengeluarakan uang S$40 atau sebesar 260ribu. Wah itu sih sama seharga tas dan sepatu. Ya sudah lah, saya pasrah saja. Bos saya bilang jika barang tertinggal di bandara Singapura, maka kemungkinan besar tetap selamat. Lumayan tenang saya, namun tetap saja bersiap-siap merelakan tas dan sepatu. Kami berencana menggambil tas tersebut pada hari Rabu karena Bos ada keperluan untuk menjemput istrinya di bandara.
Kita lupakan sejenak tentang teringgalnya tas saya di bandara. Setelah beristirahat sebentar, kami berencana membeli makan malam di daerah Newton. Di situ adalah ada sebuah food court terbuka dengan harga yang cukup murah. Untuk menuju Newton, kami menggunakan jasa MRT. Saya kembali berdecak kagum terhadap sistem angkutan masal, sistem MRT ini serba otomatis. Untuk membeli tiket juga tanpa bantuan manusia, loket masuk juga tanpa manusia, dan begitupula dengan kereta api nya, otomatis! Sungguh nyaman jika kita memiliki sistem MRT seperti ini. Kami masuk melaui stasiun Orchad dan stasiun selanjutnya adalah newton.

Hampir 2 jam kami makan di newton, kebanyakan adalah makanan laut. Setelah itu kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Tidak masalah buat saya, sekalian untuk melihat suasana singapura di tengah malam. Di tengah malam itu kami berjalan menyurui trotoar singapura yang begitu bersih dan teratur. Tidak ada halangan yang menghalagi trotoar, dan kami merasa aman berjalan walau tengah malam. Sebuah potret keberhasilan pemerintah dalam menangani masalah dasar rakyatnya. Dengan berjalan kaki, kami membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk mencapai hotel. Padahal jika menggunakan MRT cukup memakan waktu 10 menit. Tapi MRT buka sampai pukul 11 malam...

Tidak ada komentar: