Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

INDIKASI TERSERANG FLU BABI Berikut ciri-ciri bila seseorang terserang Flu Babi: * Panas badan melebihi 38 C * Terasa lelah (Lethargy) * Tidak ada nafsu makan * Hidung mengalir * Merasa sakit tenggorokan bila menelan * Batuk * Otot-otot sakit * Sambungan tulang nyeri * Mual-mual dan ingin muntah * Diare

Kamis, 03 Desember 2009

Tour de Ambarawa part 3


Di stasiun Bedono, lokomotif uap melakukan proses isi air. Kira-kira waktu prosesnya 15-20 menit. Menunggu waktu tersebut para edan sepur berpuas mengabadikan momen-momen pengisian air. Tapi bagi non edan sepur, menunggu waktu tersebut rasanya membosankan. Karena di Bedono tidak ada apa-apa. Hanya sebuah bangunan stasiun yang telah tutup. Paling-paling ada penjual pecel yang menjadi hiburan bagi perut :)


Lokomotif mengisi air

Setelah mengisi air, maka lokomotif kemali menggandeng rangkaian dan melanjutkan tour, yaitu kembali ke Stasiun Ambarawa (Willem I). Saat perjalanan pulang rasanya mengantuk sekali, karena kebetulan sejak dari Surabaya kurang tidur. Beberapa railfans memang terlihat tertidur (malah ada yang tidur pas perjalanan berangkat tadi).

Kelokan menurun di perjalanan pulang


Jalan raya Ambarawa - Magelang

Perjalanan kembali rasanya lebih cepat, karena kondisi jalur yang menurun, selain itu tidak ada proses ganti posisi di stasiun Jambu. Akhirnya setelah 30-40 menit perjalanan, kita telah kembali di stasiun Willem I. Berakhirlah perjalanan kita dengan kereta uap. Lokomotif dan kereta di istirahatkan di Dipo Loko Uap untuk nanti berangkat lagi di siang hari.

Sebelum pulang, sebaiknya kita nikmati juga pajangan berbagai tipe lokomotif uap yang ada di bagian kanan setasiun. Selain itu juga ada beberapa foto-foto lawas. (Sayang saya gak foto-foto karena dah capek). Untuk yang masih ingin jalan-jalan lagi, bisa mencoba lori wisata seharga 10.000 yang melintasi bukit cinta.

Karena saya capek, akhirnya saya putuskan untuk kembali lebih awal bersama rekan RF. Kami memutuskan pulang via Yogyakarta.
Bersambung...


Di bus Ambarawa - Yogya

Minggu, 29 November 2009

Tour de Ambarawa part 2

Perjalanan dengan kereta uap dimulai dari stasiun Ambarawa (Willem I). Loko uap dengan 2 kereta penumpang berjalan pelan diantara perkampungan penduduk. Jalur Willem I sampai Stasiun Jambu merupakan jalur datar yang melalui perkampungan dan persawahan.

Diantara perkampungan penduduk

Sekitar 15-20 menit kemudian kita sampai di stasiun Jambu. Tapi jangan berpikir akan melihat bangunan stasiun seperti biasanya. Stasiun ini hanya berupa tanah lapang dan tiga jalur rel. Malah rel-rel sepur belok tidak terlihat karena tingginya rumput. Di stasiun ini, lokomotif yang tadinya di depan akan pindah ke belakang untuk mendorong, karena jalur di depan (menuju stasiun Bedono) kondisinya menanjak.

Tiba di stasiun Jambu


Datang dari belakang untuk mendorong

Selepas stasiun jambu, pemandangan mulai berganti menjadi pemandangan semi hutan. Rumah-rumah penduduk mulai jarang dan jalan mulai menanjak, ditandai dengan adanya rel gerigi.

Pemandangan sawah hijau dan gunung


Rel bergerigi

Dengan jalur yang berkelok, dijamin para edan sepur akan menikmati perjalanan menuju stasiun Bedono. Nanti jalur KA akan bersinggungan dengan jalan raya Ambarawa-Magelang.
Akhirnya rangkaian kereta sampai di stasiun Bedono. Bersambung....

Stasiun Bedono

Rabu, 18 November 2009

Tour de Ambarawa part 1

Tanggal 22 oktober 2009, arek2 sepur ngadain acara tour lokomotiv uap ambarawa. Wah ini kesempatan emas untuk menikmati lokomotiv uap yang masih sehat. Dah lama rasanya ingin mencoba wisata ini, tapi belum pernah sekalipun rancana yang terpikirkan.

Rekan-rekan dari Surabaya sebagian (termasuk saya) menggunakan KA Gumarang menuju Semarang. Sebagian lagi ada yang menggunakan angkutan bus. KA Gumarang berangkat pukul 5:30 dari St. Ps Turi. Sampai di Semarang pukul 23:00. Perjalanan cukup lancar, kondisi tidak terlalu ramai namun tidak juga kosong. Mungkin karena hari Jum'at, banyak orang-orang yang PJKA (Pulang Jumat, kembali Ahad).

Kami tiba di Semarang Tawang sekitar pukul 23.00 malam. Cuaca cukup cerah, namun terlihat sedikit awan mendung. Kita berharap besok cukup cerah sehingga perjalanan KA Uap tidak terganggun hujan. Sejenak kita istirahat di warung sekitar stasiun sambil menikmati gorengan.

Rasanya malam itu akan hujan karena udara terasa cukup pengap. Saya memutuskan untuk mandi di kamar mandi umum stasiun. Wah segar deh rasanya setelah perjalanan lima jam akhirnya terbasuh dinginnya air.

Kondisi stasiun Tawang tampak sepi, ya tentu lah kan tengah malam, tampak di ujung barat lokomotif BB200 dalam kondisi idle. Saya bertanya pada teman, "kenapa koq gak dipakai tapi tetap mesin menyala". Jawab teman saya, "Daripada nanti nyalain lagi susah banget mending ngorbanin solar beberapa liter". Ohhh gitu toh. Ya memang lokomotif ini termasuk lokomotif yang uzur. Saya diajak bro Dimaz untuk melihat loko itu dari dekat.

BB200 diam diantara kegelapan malam

Sambil menunggu pagi, kawan-kawan ngobrol ngalur ngidul. Ada juga yang melepas lelah dengan tidur di emperan stasiun. Selepas subuh, aktifitas stasiun mulai ramai. Beberapa rangkaian kereta api datang dari arah Jakarta. BB200 pun memulai aktifitasnya sebagai lokomotif langsir. Tapi rasa ngantuk mulai mendera. Beberapa kawan tampak terlelap di bangku-bangku kosong stasiun.

Siluet menara stasiun tawang di pagi hari


KA dari jakarta


BB200 berdinas sebagai lokomotif langsir

Selepas pukul 7 pagi, seluruh railfans telah berkumpul. Saatnya berangkat menuju Ambarawa. Dari depan stasiun tawang kita menunpang mini bus. Dengan biaya Rp 7000 kita akan sampai di museum Kereta Api sekitar satu jam.

Di museum, kami disambut oleh lokomotif uap B2503 dalam posisi telah menggandeng dua kereta kayu. Kagum rasana melihat sebuah lokomotif uap yang masih beroperasi. Seumur hidup bari kali ini melihat lokomotif uap untuk kereta penumpang. (Sebelumnya dah pernah liat/malah naik lokomotif uap untuk lori PG)

Bersambung...


B2503 menunggu penumpang